Skip to main content

Laskar Pelangi

Butuh sekitar sebelas jam untuk melahap habis satu buku karya pertama Andrea Hirata itu.

Apa? dt baru baca itu novel! Yang bener aja!

Iya, iya... dt akuin kalo dt termasuk orang-orang yang telat baca yang dibilang Indonesia’s Most Powerful Book itu. Tapi kan mending telat daripada engga sama sekali. Padahal sebenernya entah sudah dari jaman kapan Ummi, Melz, dan QQ —temen dt yang sama-sama pecinta Harry Potter dan pembaca segala— nyuruh dt untuk cepet-cepet baca buku Laskar Pelangi yang tentunya harus berlanjut ketiga buku lanjutannya. Karena rencananya, kami nanti mau nonton bareng dan —seperti biasa— membandingkan film dengan bukunya, yang sudah barang tentu dt kasih komentar ”Pasti lebih bagus bukunya,” dan dibalas ”Makanya, baca aja bukunya,” oleh Ummi. Bahkan QQ pun sudah mau merelakan novel Laskar Pelangi-nya biar keinginan mereka supaya dt baca Laskar Pelangi terwujud. Sayangnya dt ga niat dan novel Laskar Pelangi QQ ga juga dt ambil sampai akhirnya QQ mudik ke Banjar Baru di Borneo sana.

QQ mudik, berarti masa liburan juga udah dateng. Dan kemaren dt yang belum ada 24 jam menghabiskan waktu mudik di rumah di Sidoarjo sudah nyaris mati kering gara-gara bosen ampun-ampunan. Habis mandi siang plus shalat dhuhur —ini nih kebiasaan kalo libur. Mandi siang... XP— dt inget obrolan semalem sama adek.

”Dek, itu buku di rak kok ga dibaca-baca, sih. Mana masih lengkap sama segelnya.” Bayangin dong gimana perasaan pembaca segala semacam dt yang bahkan kolom berita kematian di koran juga dt baca, melihat tiga buku masih tersegel diem nganggur di rak berbulan-bulan. Kesian banget tuh buku. Dan dt bisa mendengar mereka teriak-teriak, merintih-rintih, dan memohon-mohon (halah lebay!) untuk terbebas dari segelnya dan cepat dibaca. Bener deh, pengin rasanya dt baca tiga buku itu, tapi berhubung itu bukan buku dt, dt ga berhak seenaknya merawani buku orang. Dan itulah maksud tersembunyi dari kalimat dt. Kalau adek udah bilang, kalo kakak mau baca, baca aja, atau semacamnya, dt akan dengan senang hati membebaskan penantian para buku tersegel itu.

”Lha, itu kan bukunya Kakak. Mama yang beliin.” Gludaks! Alamak! Tau gitu sudah dt embat buku-buku itu mulai dari jaman ga enak dulu.

Dan pintu kebebasan para bukupun terbuka....

Yang paling dt suka itu, bab-bab khusus tentang si duet jenius Lintang dan Mahar. Dan kalau disuruh memilih Lintang atau Mahar, sepertinya dt bakal milih Mahar tanpa alasan yang jelas. Oia, ada hal yang menurut dt lucu tentang alur waktu di Laskar Pelangi yang maju mundur. Entah benar atau salah, tapi itu yang dt rasakan. Sesaat kita ada di jaman si Ikal waktu kelas lima SD, lalu tiba-tiba kita terpelanting ke masa saat mereka kelas tiga SMP, lalu kepental lagi ke masa yang dt juga ga yakin kapan. Rasanya diaduk-aduk deh...

Belum lagi penulisannya yang detil abis. Jujur, dt pun sebenarnya juga nyoba-nyoba nulis cerita-cerita yang sampai sekarang, semuanya belum pernah dt selesaikan. Selalu mandeg di tengah-tengah. Bahkan banyak yang belum sampai titik klimaksnya. Kenapa? Karena dt terbiasa penulisan deskriptif yang kebanyakan temen bilang terlalu mendetil. Dan dt takut yang baca keburu bosen. Tapi setelah baca tulisannya Bang Andrea (boleh manggil gini tak ya?) dt jadi bangkit semangat nulis lagi. Lagipula, kalau kita gagal di Rencana A, bukankah masih ada Rencana B, Rencana C, dan seterusnya?

Comments

Popular posts from this blog

Data Collecting Story (2)

dt tahu ini telat, tapi tetep aja pengen cerita. Jadi, malam sebelum malam pengambilan data, dt harus nyiapin segala sesuatunya. Dari print dan fotokopi lembar kuisioner dengan cara bikin repot mbak Mar *ngakak setan*, nyiapin timbangan berat badan (yang ini baru beli), nyiapin meteran buat ngukur tinggi badan (yang ini pake meteran baju), sampe nyiapin konsumsi buat responden besok. Nah, persiapan konsumsi ini yang pengen dt ceritain. Rencananya, setelah diwawancara, responden bakal dikasih konsumsi. Bukan nasi kotak mewah yang bisa bikin kenyang, sih. Cuma sekadar air mineral gelas plus dua buah roti yang semuanya dimasukkan ke dalam kotak kertas. Beda sama di Ngalam yang bisa pesen kue dalam kotak dalam jumah sedikit, di MudField ga bakal bisa kecuali kita pesen lebih dari 100 kotak. Padahal dt cuma butuh 70 kotak. Nah kalo pesen 100 siapa yang mau ngabisin sisa 30 kotaknya. Akhirnya beli kue sendiri, beli air mineral sendiri, dan beli kotaknya pun sendiri. Berhubung sudah t...

Routine

Wake up. Fight the traffic. Smile and serve for the next eight hours. Fight another traffic. Sleep. Receive monthly fee. Repeat.  That's basically my life right now.  Kebanyakan orang ngerasa ini normal, tapi dt ga ngerasa gitu. Rasanya ada yang salah dengan rutinitas tanpa tujuan. Kebanyakan orang bekerja karena mereka butuh uang. Well, dt juga butuh uang, tapi uang bukan motivasi utama dt kerja. Tantangan yang dt cari. dt ngerasa pekerjaan kita itu tempat aktualisasi diri. Which I don't feel right now. Mungkin itu yang bikin dt ngerasa ada yang salah dengan rutinitas dt.  Ada keinginan untuk keluar dari rutinitas yang ada sekarang, tapi selalu ada tembok yang bikin dt mikir ulang buat keluar. The Why Wall. Pertanyaan kenapa dt ada keinginan mundur dari rutinitas yang menurut banyak orang menguntungkan karena pekerjaan yang dt jalani sekarang adalah pekerjaan stabil, punya gengsi, mudah, dan berpenghasilan bagus. Dan jawaban kurang menantang kurang bisa...

It's about lying

You Are a Great Liar You can pretty much pull anything over on anyone. You are an expert liar, even if you don't lie very often. Are You a Good Liar? No comment deh... --" You Can Definitely Spot a Liar Maybe you have good instincts. Or maybe you just have a lot of experience with liars. Either way, it's pretty hard for someone to pull a fast one on you. You're like a human lie detector. Can You Spot a Liar? Well, so am I a great liar because i know the techniques? Or is it just in my blood? And the most important question is, am I really a great liar?