Cahaya ruangan berukuran dua kali tiga meter persegi itu kuning temaram, berasal dari lampu minyak. Jelaga hitam tertera jelas di dinding bambu dekat mulut lampu minyak. Pencahayaan yang remang itu jelas bukan pencahayaan maksimal kalau kau ingin memperhatikan lekuk detil wajahmu. Tapi cahaya redup itu membuat sosok yang sedang memoles diri itu tampak lebih bersahaja. Aku duduk memerhatikan di atas kasur kapuk di dipan kayu usang yang sudah tidak jelas lagi seperti apa warnanya. Memerhatikan sosoknya yang mulai mematut diri di depan satu-satunya lemari dengan cermin tinggi di rumah ini. Sebuah pemandangan lembut yang indah. Aku menguap. Atau karena mataku yang mulai berat sampai-sampai pemandangan di hadapanku jadi kelihatan lebih indah? Tapi memang indah. Aku selalu suka melihatnya berdandan. Selalu. Rasanya seperti sihir. Bagaimana dengan polesan sedikit warna di sana-sini bisa mengubah setiap orang menjadi cantik. Seperti yang sedang ia lakukan sekarang. Mengoleskan padua...