Skip to main content

Tackling a Book

Sudah lama rasanya dt ga baca buku. Entah itu novel atau buku pengembangan diri yang emang doyan dt baca. Well, dengan catatan kalau buku diktat kuliah dan jurnal kesehatan ga termasuk. Soalnya selama ngegarap skripshit (skrip lagi~ skrip lagi~) dt emang jadi ngurangi porsi baca buku. Jangankan baca buku, nonton ke 21 aja jadi jarangnya amit-amit. Jadi, kapan terakhir dt baca buku?

Mungkin sekitar bulan Oktober. Berarti sekitar empat bulan lebih. Lama banget eui. Ga heran kalo loading otak dt makin lambat gara-gara ga pernah dipake mikir. Well, bukan berarti selama ngegarap skripshit dt ga mikir. Jelas banget mikirnya! Tapi beda gitu yang dipikirin. Makanya setelah ngumpulin revisi dan merasa dt punya waktu luang karena tinggal menanti koreksi revisi dari dosen penguji yang masih sibuk dengan lokakaryanya, dt ngeloyor ke Gramed di Matos.

Sebenernya dt pengen ngambil buku Roro Mendut yang tebelnya bisa dijadiin bantal itu, tapi mengingat kapasitas loading dt yang menurun banyak karena empat bulan ga dilatih, dt masih sadar diri dan mencoba mencari bacaan yang lebih ringan dan beralih ke rak novel Indonesia. Siapa tahu ada yang menarik. Lirik-lirik judul, baca-baca ringkasan di cover belakang, dan ga ada yang menarik. Entah kenapa sedikit novel ringan Indonesia yang bisa menarik perhatian dt. Tapi mengingat novel Indonesia memang kebanyakan teenlit dengan tebal yang mungkin sekitar 200an halaman, ga heran kalo dt ga begitu tertarik.

Oke, mari beranjak naik sedikit. Chicklit. Itu artinya novel terjemahan ringan. Ada beberapa yang menarik perhatian sih tapi rasanya ga bijak kalo langsung nyamber empat novel yang harganya di atas 60.000 untuk bacaan selingan walaupun dengan Mr. Visa ada dalam genggaman. Dan dengan berat hati dt cuma ambil satu chicklit yang sepertinya boleh juga. The Little Lady Agency (dan akhirnya nyamber Dracula-nya Bram Stroker juga, haha).

Nyampe kosan dt langsung baca itu chicklit (tenang, ga bakal ada spoiler kok, kalo penasaran beli aja sana). Dan tiga bab pertama dt beneran ga nyambung dengan apa yang ditulis Hester Browne. Tapi yang jelas kesalahan bukan pada penulis. Hal ini terjadi karena semata-mata loading otak pembacanya yang leletnya amit-amit. Dan baru dipertengahan bab 4 dt baru ngeh kalo setting ceritanya di Inggris, bukan Amerika (dalam mindset dt, chicklit itu khas Amerika) dan baru ngeh kalo temen seapartemen tokoh utama itu cowok.

Yeah, dt benar-benar sadar seberapa parah kebekuan otak dt. Makanya dt nyoba mecah kebekuan itu dengan buku ringan dulu. Bertahaplah. Bisa leleh otak dt terus ngalir lewat kuping nanti kalo langsung dihantam sama novel Gajah Mada. Anyways, dt menghabiskan sekitar sepuluh jam untuk melahap habis buku 500an halaman itu. Pretty refreshing dan bisa dibilang the Little Lady agency termasuk buku yang bersih (mengingat rata-rata chicklit minimal punya satu adegan gulung-gulung di ranjang, sedangkan yang ini ga ada).

Nah, sekarang giliran Bram Stroker's Dracula menanti untuk dilahap. Well, setelah dt nyelesain nulis jurnal skripshit tentunya. *wink*

Comments

Popular posts from this blog

Data Collecting Story (2)

dt tahu ini telat, tapi tetep aja pengen cerita. Jadi, malam sebelum malam pengambilan data, dt harus nyiapin segala sesuatunya. Dari print dan fotokopi lembar kuisioner dengan cara bikin repot mbak Mar *ngakak setan*, nyiapin timbangan berat badan (yang ini baru beli), nyiapin meteran buat ngukur tinggi badan (yang ini pake meteran baju), sampe nyiapin konsumsi buat responden besok. Nah, persiapan konsumsi ini yang pengen dt ceritain. Rencananya, setelah diwawancara, responden bakal dikasih konsumsi. Bukan nasi kotak mewah yang bisa bikin kenyang, sih. Cuma sekadar air mineral gelas plus dua buah roti yang semuanya dimasukkan ke dalam kotak kertas. Beda sama di Ngalam yang bisa pesen kue dalam kotak dalam jumah sedikit, di MudField ga bakal bisa kecuali kita pesen lebih dari 100 kotak. Padahal dt cuma butuh 70 kotak. Nah kalo pesen 100 siapa yang mau ngabisin sisa 30 kotaknya. Akhirnya beli kue sendiri, beli air mineral sendiri, dan beli kotaknya pun sendiri. Berhubung sudah t...

Routine

Wake up. Fight the traffic. Smile and serve for the next eight hours. Fight another traffic. Sleep. Receive monthly fee. Repeat.  That's basically my life right now.  Kebanyakan orang ngerasa ini normal, tapi dt ga ngerasa gitu. Rasanya ada yang salah dengan rutinitas tanpa tujuan. Kebanyakan orang bekerja karena mereka butuh uang. Well, dt juga butuh uang, tapi uang bukan motivasi utama dt kerja. Tantangan yang dt cari. dt ngerasa pekerjaan kita itu tempat aktualisasi diri. Which I don't feel right now. Mungkin itu yang bikin dt ngerasa ada yang salah dengan rutinitas dt.  Ada keinginan untuk keluar dari rutinitas yang ada sekarang, tapi selalu ada tembok yang bikin dt mikir ulang buat keluar. The Why Wall. Pertanyaan kenapa dt ada keinginan mundur dari rutinitas yang menurut banyak orang menguntungkan karena pekerjaan yang dt jalani sekarang adalah pekerjaan stabil, punya gengsi, mudah, dan berpenghasilan bagus. Dan jawaban kurang menantang kurang bisa...

It's about lying

You Are a Great Liar You can pretty much pull anything over on anyone. You are an expert liar, even if you don't lie very often. Are You a Good Liar? No comment deh... --" You Can Definitely Spot a Liar Maybe you have good instincts. Or maybe you just have a lot of experience with liars. Either way, it's pretty hard for someone to pull a fast one on you. You're like a human lie detector. Can You Spot a Liar? Well, so am I a great liar because i know the techniques? Or is it just in my blood? And the most important question is, am I really a great liar?