Skip to main content

Fiksi: Garis Lurus


Cahaya ruangan berukuran dua kali tiga meter persegi itu kuning temaram, berasal dari lampu minyak. Jelaga hitam tertera jelas di dinding bambu dekat mulut lampu minyak. Pencahayaan yang remang itu jelas bukan pencahayaan maksimal kalau kau ingin memperhatikan lekuk detil wajahmu. Tapi cahaya redup itu membuat sosok yang sedang memoles diri itu tampak lebih bersahaja.

Aku duduk memerhatikan di atas kasur kapuk di dipan kayu usang yang sudah tidak jelas lagi seperti apa warnanya. Memerhatikan sosoknya yang mulai mematut diri di depan satu-satunya lemari dengan cermin tinggi di rumah ini. Sebuah pemandangan lembut yang indah. Aku menguap. Atau karena mataku yang mulai berat sampai-sampai pemandangan di hadapanku jadi kelihatan lebih indah?

Tapi memang indah.

Aku selalu suka melihatnya berdandan. Selalu. Rasanya seperti sihir. Bagaimana dengan polesan sedikit warna di sana-sini bisa mengubah setiap orang menjadi cantik. Seperti yang sedang ia lakukan sekarang. Mengoleskan paduan warna nila dan putih di kelopak mata. Menegaskan bentuk mata dengan celak hitam. Lalu menambahkan maskara berwarna biru yang sepadan dengan eyeshdow-nya. Hanya alisnya yang tak disentuh. Sudah cukup tebal tanpa harus digarisi dengan pensil.

Kini ia meraih perona pipi dan mulai menepukkan kuasnya di tulang pipi. Aku mendekat dan meraih pemerah bibir dan memolesnya di bibirku sendiri. Ikut-ikutan berdandan seperti ini juga kebiasaanku sejak kecil. Responnya pun selalu sama.

"Kamu sudah cantik, Nduk. Ndak usah ikut-ikutan dandan pake bedak murahan gini."

Tangan besarnya mengusap lembut puncak kepalaku. Aku hanya tersenyum. Kini ia yang memolesi bibirnya dengan warna merah darah yang pekat. Tebal. Selalu tebal.

"Apa ndak apa-apa mulai kerja malem kayak gini lagi? Kerja sambilanku cukup buat bayar uang sekolah, kok."

"Tapi sebentar lagi kamu mau ujian akhir kan, Nduk. Lebih baik kamu konsentrasi belajar saja. Urusan uang ndak usah ikut mikir. Atau kamu malu?"

Aku menggeleng. Aku tidak malu. Kenapa harus malu dengan orang tua tunggal yang berjuang melakukan apa pun untuk membiayai pendidikan dan kehidupan anaknya. Walau jelas uang yang didapat dari hasil kerja yang banyak orang mengecapnya sebagai pekerjaan tidak benar. Penari kabaret. Rumah petak ukuran lima kali enam meter persegi ini pun hasil menari. Aku mampu disekolahkan sampai kelas tiga SMA pun hasil menari.

Aku menguap lagi karena mengantuk.

"Tidurlah, Nduk. Besok kau harus sekolah dan masuk pagi, kan?"

Ia mengecup puncak kepalaku. Sekilas campuran aroma apak bedak murahan dan asap rokok kretek itu mampir di hidungku. Sudah biasa.

"Tidak usah menunggu, aku pulang dini hari seperti biasa."

"Nggih, Bapak."

Baru kurebahkan tubuh di kasur kapuk lapuk setelah ia mengunci pintu depan. Aku pergi tidur.

Comments

Popular posts from this blog

[30HM] H6: Resensi Buku: Daughter of God

Judul Buku: Daughter of God (2000) Penulis: Lewis Perdue Penerbit: Dastan Books Penerjemah: Bima Sudiarto Sinopsis Belakang Buku: Pemusnahan benda-benda seni kuno bernilai tinggi. Penculikan serta pembunuhan demi pembunuhan. Misteri dan konspirasi yang telah berusia ribuan tahun terungkap. Fondasi keimanan masyarakat modern terancam. Zoe Ridgeway, seorang broker seni terkemuka, pergi ke Swiss bersama suaminya, Seth, untuk menemui seorang kolektor benda seni. Sang Kolektor yang menjelang ajal itu ingin Zoe agar mengurus benda-benda seninya. Namun, sebelum semua urusan selesai, sang kolektor meninggal dunia dengan cara misterius dan rumahnya yang penuh dengan benda seni bernilai tinggi itu habis terbakar. Tak hanya itu, Zoe diculik dan Seth harus menghadapi orang-orang yang mengancam jiwanya. Tampaknya ada sesuatu yang seharusnya mereka tidak ketahui.Sesuatu yang keberadaannya telah lama ditutup-tutupi dan dikubur dalam-dalam oleh pihak-pihak tertentu. Zoe dan Seth terjerat ja...

Refusing Gift

Pernah menginginkan sesuatu tapi yang didapat ga bener-bener sesuai yang diinginkan? It's happening on me right now. Biasanya saat menghadapi yang kek gini dt bisa dengan legawa menerima dan bersyukur. Tapi ga tahu kenapa kali ini dt malah merasa sebal luar biasa. Jadi ceritanya semalam dt n adek ngomongin tentang mandphone yang lagi dipengenin. Adek pengen nokia X5 dan dt yang lagi naksir android pengen antara samsung 5333 atau LG GW620. Di sini mama ikutan lihat n denger pas dt browsing sambil ber-kya-kya lihat gambar-gambar henpon yang kita pengenin. Entah ada angin apa, barusan mama yang seharian emang keluar ke Surabaya, pulang-pulang dateng n nyodorin sebuah handphone LG layar touchscreen sambil bilang "ini buat kakak" Dan reaksi jujur pertama dt adalah "apaan nih maksudnya?" Sepertinya mama salah nangkep waktu denger n lihat dt semalem. Dikiranya dt pengen henpon touchscreen, mengingat most android emang touchscreen. Mungkin maksud mama mau...

Strangest Period

Menstrual syndrome kali ini benar-benar di luar kebiasaan. Biasanya saat period seperti ini, dt berlimpah energi, senyum terus mengembang, emosi meluap penuh optimisme, intinya masa terbaik dt justru pas masa period itu. Tapi period kali ini beda. Sumpah! Di mulai dari masa pre period dengan emosi labil yang berlebihan. Waktu itu kebetulan dt tanpa sengaja ikut rapat informal yang harusnya ga dt ikuti. Di sana para otak organisasi pada brainstorming memikirkan nasib organisasi ke depannya. Dan dt yang memang ga tahu duduk permasalahannya dan diem aja selama perbincangan itu (waktu itu sebenernya dt lagi asik nulis cerita) malah ngerasa bersalah. Ga jelas banget kan. Waktu itu, sesampai di kosan dt nangis sejadi-jadinya. Perasaan dt penuh rasa bersalah dan dt ngerasa seperti orang paling ga berguna sedunia.  Dan yang masuk golongan parah lagi adalah kemarin sore. Tiba-tiba dt merasa tertekan luar biasa. Depresi. Padahal detik sebelumnya dt masih ketawa-ketawa seneng sambil baca post...