Skip to main content

Christmast at Malay

Jadi, selama liburan natal dt pelesiran ke Malaysia. Gimana suasana natal di Malay? Ga berasa. Yaiyalah, secara Malaysia adalah salah satu negara yang kental banget budaya Islam-nya. Paling baru terasa natalnya pas dt masuk ke Suria KLCC yang di lantai dasarnya ada satu pohon natal yang supergede yang menjulang sampai lantai empat dan di bawah sana ada panggung yang dipenuhi ornamen merah, hijau, putih, emas khas natal plus seorang santa gendut berbaju merah berjenggot putih lebat yang siap diajak poto-poto. Di tempat lain? Jangan harap deh.

Ke mana aja di Malay? Hm, cuma sedikit tempat yang dt kunjungi, secara cuma ngabisin tiga hari dua malem di sana. Hari pertama dari KLIA dt naek bus ke Kuala Lumpur yang entah berapa waktu yang dt habisin. Yang pasti lama banget soalnya dt sempet ketiduran sampe dua kali. Dan langsung menuju hotel. dt nginep di Corus Hotel, yang kurang lebih lima menit dari Twin Tower kebanggaan Malaysia itu. Setelah check in dan leyeh-leyeh sebentar, dt langsung cabut ke Suria KLCC yang cuma butuh jalan kaki lima menit. Muter-muter, beli pernik, poto-poto di air mancur, makan, balik ke hotel.

Hari ke dua, setelah check out, dt langsung ke KL Bird Park.Yeah, taman burung yang menurut dt masih bagus Bird Park-nya Singapore karena lebih banyak atraksinya. Tapi lumayanlah udaranya dan lingkungannya yang hijau menyenangkan. Setelah poto-poto sama burung (yaiyalah, masa mau poto-poto sama orang utan), langsung tancap ke Genting Highland yang katanya adalah sebuah tempat di mana pemerintah Malaysia menghalalkan perjudian di sana. Untuk ke Genting Highland, kalian harus naik Genting Skyway. Well, ga harus sih, tapi naik Genting Skyway adalah salah satu must do kalo kalian pelesiran ke Malay.

Genting Skyway adalah bentuk transportasi yang cepat dan nyaman (kecuali kalian phobia dengan ketinggian) dalam wujud kereta gantung. Mirip-mirip Gondola di Ancol sanalah. dt ngantre dua jam lebih biar bisa naik itu kereta gantung, and it’s worth it! Menikmati pemandangan bagian atas hutan yang masih liar diselimuti kabut tipis malu-malu ditemani hawa dingin rintik ringan gerimis, kalo ditambah secangkir teh manis anget n mendoan, manteb banget deh. Sayangnya no food and drink inside the skyway. Jaraknya dari Genting bawah dan atas sekitar 3,4 km yang ditempuh dalam waktu ga sampe setengah jam. Bahkan Genting Skyway memproklamirkan diri sebagai kereta gantung terpanjang dan tercepat se-Asia Tenggara.

Nah, sampe di sana dt langsung berada dalam gedung yang menurut dt serupa kek mall (mall lagi, mall lagi.. =.=) yang langsung ditelusuri buat nyari jalan keluarnya yang malah membimbing dt untuk terus naik ke lantai yang lebih tinggi dan berakhir di sebuah pintu masuk kasino! Yay! Ketemu sama kasinonya eui! Mari mencoba bermain dengan dewi fortuna di sini, gitu pikir dt. Tapi begitu masuk, dt langsung dihadang petugas yang langsung bertanya ”Are you 21 yet?” Ngek! Umur dt udah 22 kali, pak. Tapi kalo ngelirik apa yang dt pake waktu itu, pasti petugasnya percaya aja kalo dt bilang umur dt 14 tahun. Secara dt pake kaos kedodoran, celana ¾ longgar, plus sepatu Crocs warna-warni khas anak kecil. Ditambah lagi backpack anak sekolahan, rambut diiket ekor kuda tinggi, and clearly, no make up. Kalo ga bareng sama ortu, mungkin dt udah dikira anak ilang kali ya. Dan dengan setengah hati, dt meninggalkan kasino dan menyenangkan diri sendiri dengan membeli dua ons gummy worms dan menghabiskannya sendirian (beneran jadi anak kecil kan… *ngakak*).

Capek muter-muter dan sore sudah datang, waktunya turun dan check in hotel. Tapi kali ini ga pake Skyway, bakal pingsan deh kalo disuruh ngantri dua jam lagi. Jadi dt pilih taksi untuk ke Awana Hotel dan berasa kek naik rollercoaster selama perjalanan. Jalan berliku dan menurun yang lumayan tajam sambil diguyur hujan deras. You should try it, it’s fun! (walau mama papa pada kepedesan selama di jalan, wkwk)

Last day, rencananya mau maen-maen di Theme Park (semacam Dufan-nya Genting Highland) tapi berhubung hari hujan dan kabut tetep tebal, diputuskan untuk mendingan turun dan jalan-jalan di Muzium Negara di KL sambil ngabisin waktu sampe waktu check in tiket pesawat nantinya.

Oia, ada hal konyol yang kejadian selama dt di Malay. Kita salah kamar, dua kali, di dua hotel berbeda! Oke, biarin dt cekikikan dulu. (...) Ehm, udah. Jadi pas di Corus, kata mama, kita dapet kamar 1109. Naiklah kita ke lantai 11 dan mencari kamar nomor 1109. 1116-1115 (oh, nomor kamarnya mundur) 1114-1113-1112-1111-1110-1108. Lho kok? Baliklah ke nomer 1110, dan menyusuri pelan-pelan sapa tahu kelewatan. Pintu kamar 1109 harusnya tepat ada di tikungan antara kamar 1110 n 1108. Tapi ga ada yang namanya itu pintu dengan nomor 1109. Nah lo! Untungnya ketemu sama cleaning service yang langsung kita sudutkan dan kita introgasi. Usut punya usut, ternyata emang ga ada kamar nomor 09 ditiap lantai. Bukan karena kepercayaan tertentu, tapi entah kenapa memang begitu penomorannya. Lah terus kamar kita? Apa artinya kita ditipu sama pihak hotel? Engga bo! Kita salah baca tulisan si resepsionis yang nulis nomor kamar. Muakakaka. Ternyata kita dapet 1102.

Nah, pas di Awana Hotel juga kejadian tuh acara salah kamarnya. Kata mama, kita dapet kamar 2366, tapi sampai di depan kamar, dt ngerasa ada yang ganjil. ”Kok di pintu ada kiwir-kiwirnya,” celetuk dt, tapi keknya ga ada yang denger. Dan mama tetep mencoba membuka pintu dengan kartu yang ada. Ga bisa. Giliran adek yang nyoba. Ga bisa juga. Terus giliran dt nyoba yang berujung dengan pertanyaan ”Beneran kamar 2366?” Selain itu dt juga ngerasa ada suara kartun dari dalem kamar. Oke, bisa diabaikan kalo tentang kemampuan dt mengenali arah sumber suara dt yang emang jarang benernya. Tapi gantungan Don’t Disturb di handle pintu itu jelas satu hal yang ganjil kan. Dilihatlah tulisan nomor kamar yang juga ditulis tangan oleh sang resepsionis. 2360. Ya jelaslah kalo itu pintu kamar ga bisa kebuka. Wakakakak.

Note to myself: selalu ingetin mama papa untuk bawa kacamata tiap kali pergi liburan. Wkwkwk.

Comments

Popular posts from this blog

[30HM] H6: Resensi Buku: Daughter of God

Judul Buku: Daughter of God (2000) Penulis: Lewis Perdue Penerbit: Dastan Books Penerjemah: Bima Sudiarto Sinopsis Belakang Buku: Pemusnahan benda-benda seni kuno bernilai tinggi. Penculikan serta pembunuhan demi pembunuhan. Misteri dan konspirasi yang telah berusia ribuan tahun terungkap. Fondasi keimanan masyarakat modern terancam. Zoe Ridgeway, seorang broker seni terkemuka, pergi ke Swiss bersama suaminya, Seth, untuk menemui seorang kolektor benda seni. Sang Kolektor yang menjelang ajal itu ingin Zoe agar mengurus benda-benda seninya. Namun, sebelum semua urusan selesai, sang kolektor meninggal dunia dengan cara misterius dan rumahnya yang penuh dengan benda seni bernilai tinggi itu habis terbakar. Tak hanya itu, Zoe diculik dan Seth harus menghadapi orang-orang yang mengancam jiwanya. Tampaknya ada sesuatu yang seharusnya mereka tidak ketahui.Sesuatu yang keberadaannya telah lama ditutup-tutupi dan dikubur dalam-dalam oleh pihak-pihak tertentu. Zoe dan Seth terjerat ja...

Refusing Gift

Pernah menginginkan sesuatu tapi yang didapat ga bener-bener sesuai yang diinginkan? It's happening on me right now. Biasanya saat menghadapi yang kek gini dt bisa dengan legawa menerima dan bersyukur. Tapi ga tahu kenapa kali ini dt malah merasa sebal luar biasa. Jadi ceritanya semalam dt n adek ngomongin tentang mandphone yang lagi dipengenin. Adek pengen nokia X5 dan dt yang lagi naksir android pengen antara samsung 5333 atau LG GW620. Di sini mama ikutan lihat n denger pas dt browsing sambil ber-kya-kya lihat gambar-gambar henpon yang kita pengenin. Entah ada angin apa, barusan mama yang seharian emang keluar ke Surabaya, pulang-pulang dateng n nyodorin sebuah handphone LG layar touchscreen sambil bilang "ini buat kakak" Dan reaksi jujur pertama dt adalah "apaan nih maksudnya?" Sepertinya mama salah nangkep waktu denger n lihat dt semalem. Dikiranya dt pengen henpon touchscreen, mengingat most android emang touchscreen. Mungkin maksud mama mau...

Strangest Period

Menstrual syndrome kali ini benar-benar di luar kebiasaan. Biasanya saat period seperti ini, dt berlimpah energi, senyum terus mengembang, emosi meluap penuh optimisme, intinya masa terbaik dt justru pas masa period itu. Tapi period kali ini beda. Sumpah! Di mulai dari masa pre period dengan emosi labil yang berlebihan. Waktu itu kebetulan dt tanpa sengaja ikut rapat informal yang harusnya ga dt ikuti. Di sana para otak organisasi pada brainstorming memikirkan nasib organisasi ke depannya. Dan dt yang memang ga tahu duduk permasalahannya dan diem aja selama perbincangan itu (waktu itu sebenernya dt lagi asik nulis cerita) malah ngerasa bersalah. Ga jelas banget kan. Waktu itu, sesampai di kosan dt nangis sejadi-jadinya. Perasaan dt penuh rasa bersalah dan dt ngerasa seperti orang paling ga berguna sedunia.  Dan yang masuk golongan parah lagi adalah kemarin sore. Tiba-tiba dt merasa tertekan luar biasa. Depresi. Padahal detik sebelumnya dt masih ketawa-ketawa seneng sambil baca post...