Skip to main content

Vacation: Hongkong-Macau (1)

Hari 1 (20130124)

Kami (dt, mama, tante yuyuk, dan tante sun) ambil penerbangan langsung Surabaya-Hongkong punya Cathay Pasific, dan setelah empat jam penerbangan, mendaratlah di Hongkong. Pemandu kami sudah anteng dengan papan nama siap menjemput. Pak Daniel namanya. Orang Indonesia dan tinggal di Indonesia sampai usia 15th, lalu terpaksa hijrah ke Hongkong karena isu SARA jaman orba dulu. Sekarang sih orangnya sudah lima puluh tahunan, tapi masih enerjik banget. Semangat 45 kalo cerita.

nemu BNI di depan KJRI! >_<)/
Perjalanan dari bandara ke hotel ngasih kesan ke dt kalo Hongkong itu kota yang sumpek, padat, berisi, tapi masih menyenangkan buat dijelajahi. Bisa diulanglah, kalo punya duit lebih buat jalan-jalan ke hongkong. Yang bikin berkesan sumpek adalah satu-satunya hal yang bisa tumbuh tinggi di Hongkong itu cuma beton. Gedung, apartemen, jalan layang, jembatan. Padahal penghijauannya oke banget, tapi memang pohonnya kalah tinggi, secara Hongkong memang ga punya lahan yang luas, makanya kotanya tumbuh ke atas.

sepotong jalanan ladies market
Setelah sampai di Excelsior Hotel, check in, dan ngelurusin punggung di kasur yang dingin sebentar, sekitar jam lima waktu setempat (Hongkong satu jam lebih cepat dari Surabaya), kami langsung turun dan siap lanjut jalan lagi. Berhubung ga ada jadwal tour hari ini, kami mbolang, dan sesuai arahan ibuk-ibuk, kami pergi Ladies Market di Tung Choi Street, Mong Kok. Dari hotel, kami naik MTR (Mass Transit Railway), semacam komuter dalam kota. Kami pake tiket sekali jalan, cukup 46 HKD (1 HKD = 1.300 IDR) untuk kami berempat dari Causeway Bay ke Mong Kok. Lumayan murah lah ya, 15.000an.

Ladies Market ini semacam pasar kaget di malam hari, dan bener-bener nutup satu jalan sepanjang tiga (atau empat) blok. Konon katanya, di sinilah barang-barang murah berkualitas lumayan diperdagangkan. Ya bisalah dapet murah kalo kemampuan tawar-menawarmu paling ngga bisa dipake nawar di pasar Blauran. Tante-tante yang tersihir dengan kata 'murah' langsung hunting oleh-oleh. Sementara mama cuma beli syal dan dt beli sarung tangan (dingin!).

suasana ceramah Maulid Nabi
Sepulang dari jalan dari ujung jalan ke ujung jalan lain, berikut tentengan belanjaan, kami ketemu dengan orang Indonesia di MTR. Pak Herman, orang Probolinggo yang syiar Islam di Hongkong. Kami diajak datang ke KJRI untuk ikut acara Maulid Nabi Muhammad SAW. Jelas diiyain dong. Dapet siraman rohani sekalian makan gratis (:p). Waktu ngedengerin ceramah, ada mbak-mbak yang nanyain, "dari shelter mana?" dt celingukan terus jelasin kalo kami ini turis yang kelaparan yang cuma mau cari makan gratis yang kebetulan ketemu pak Herman dan diundang ke acara ini. Mungkin si mbak tadi nganggep kalo kami ini TKW ilegal nyasar dan tidak terdaftar kali yak, secara kami kulu-kulu sambil bawa tentengan kresek banyak banget. Hehe..

makan gratis! XQ
Acara selesai sekitar jam sepuluh waktu setempat, dari KJRI, kami jalan menuju hotel. Lumayan deket ternyata. Di tengah jalan, masih ada beberapa toko yang buka. Salah satunya bertajuk In and Out dengan display yang lumayan menarik hati dt dan berujung ngajak mama masuk ke toko. Lihat-lihat, pegang-pegang, coba-coba, lirik-lirik harga, murah bo! Bahkan lebih murah dari barang yang di Ladies Market dengan kualitas yang lebih baik. Bayangin aja dt beli sarung tangan di Ladies Market 100 HKD (139 HKD sebelum ditawar) dan di toko ini sarung tangan harganya cuma 39 HKD! Langsung berasa rugi beli di Ladies Market.. (T_T)\

Tapi secara umum, barang-barang di Hongkong tergolong murah. Contoh: Lipstik MAC di Indonesia 250.000++ IDR sedangkan di Hongkong cuma 145 HKD (setara 188.500 IDR). Kok bisa? Karena setiap barang impor ke Hongkong tidak dikenai pajak. Hongkong ini negara yang ga punya sumber daya alam. Setiap kebutuhan penduduk dari baju sampai makanan pasti impor. Air tawar bersih aja 80% impor dari China. Kalo ga salah, cuma pendapatan, tanah, dan bahan bakar yang dikenai pajak.



Comments

Popular posts from this blog

Data Collecting Story (2)

dt tahu ini telat, tapi tetep aja pengen cerita. Jadi, malam sebelum malam pengambilan data, dt harus nyiapin segala sesuatunya. Dari print dan fotokopi lembar kuisioner dengan cara bikin repot mbak Mar *ngakak setan*, nyiapin timbangan berat badan (yang ini baru beli), nyiapin meteran buat ngukur tinggi badan (yang ini pake meteran baju), sampe nyiapin konsumsi buat responden besok. Nah, persiapan konsumsi ini yang pengen dt ceritain. Rencananya, setelah diwawancara, responden bakal dikasih konsumsi. Bukan nasi kotak mewah yang bisa bikin kenyang, sih. Cuma sekadar air mineral gelas plus dua buah roti yang semuanya dimasukkan ke dalam kotak kertas. Beda sama di Ngalam yang bisa pesen kue dalam kotak dalam jumah sedikit, di MudField ga bakal bisa kecuali kita pesen lebih dari 100 kotak. Padahal dt cuma butuh 70 kotak. Nah kalo pesen 100 siapa yang mau ngabisin sisa 30 kotaknya. Akhirnya beli kue sendiri, beli air mineral sendiri, dan beli kotaknya pun sendiri. Berhubung sudah t...

Routine

Wake up. Fight the traffic. Smile and serve for the next eight hours. Fight another traffic. Sleep. Receive monthly fee. Repeat.  That's basically my life right now.  Kebanyakan orang ngerasa ini normal, tapi dt ga ngerasa gitu. Rasanya ada yang salah dengan rutinitas tanpa tujuan. Kebanyakan orang bekerja karena mereka butuh uang. Well, dt juga butuh uang, tapi uang bukan motivasi utama dt kerja. Tantangan yang dt cari. dt ngerasa pekerjaan kita itu tempat aktualisasi diri. Which I don't feel right now. Mungkin itu yang bikin dt ngerasa ada yang salah dengan rutinitas dt.  Ada keinginan untuk keluar dari rutinitas yang ada sekarang, tapi selalu ada tembok yang bikin dt mikir ulang buat keluar. The Why Wall. Pertanyaan kenapa dt ada keinginan mundur dari rutinitas yang menurut banyak orang menguntungkan karena pekerjaan yang dt jalani sekarang adalah pekerjaan stabil, punya gengsi, mudah, dan berpenghasilan bagus. Dan jawaban kurang menantang kurang bisa...

It's about lying

You Are a Great Liar You can pretty much pull anything over on anyone. You are an expert liar, even if you don't lie very often. Are You a Good Liar? No comment deh... --" You Can Definitely Spot a Liar Maybe you have good instincts. Or maybe you just have a lot of experience with liars. Either way, it's pretty hard for someone to pull a fast one on you. You're like a human lie detector. Can You Spot a Liar? Well, so am I a great liar because i know the techniques? Or is it just in my blood? And the most important question is, am I really a great liar?