Skip to main content

Berbicara tentang Neraka



Melanjutkan pembicaraan tentang neraka. dt sempat bilang gini sama Revo. ”tahu ga kalau dt ga takut sama neraka.” Nah lo. Kok bisa coba? Yang jelas kalimat itu bukan muncul karena bawaan period, lo ya. Kalimat itu murni dari akal sehat dt yang masih waras. Ini cuma tentang perbedaan pola pikir aja kok. 
Menurut dt, neraka adalah bentuk konsekuensi dari setiap pelanggaran yang kita lakukan. Dan sebagian besar perbuatan pelanggaran itu kita lakukan dengan penuh kesadaran. Sadar bahwa kita melakukan hal yang salah. Berbohong. Mencuri. Menjelek-jelekkan orang. Berprasangka buruk. Sebutkan saja satu-satu. Dan berhubung kita melakukan pelanggaran itu secara sadar, itu artinya kita juga harus siap dengan konsekuensi yang sudah ada. Neraka.

Dan itu yang dt rasakan. Melakukan tiap perbuatan yang dt ketahui dengan sadar bahwa itu dosa dan mau tak mau harus siap dengan pembalasannya. Itu sudah jadi tanggung jawab dt, kan? Kalau memang sudah jadi tanggung jawab, apa yang harus ditakutkan. Terima saja. Gitu aja kok repot.

Yang dt takutkan justru kalau ada orang yang merasa sedih saat mereka ga bisa ketemu dt di surga.
Kadang dt sendiri heran kenapa pola pikir dt bisa membuat berbagai hal bisa jadi sesimpel ini...

Comments

Popular posts from this blog

Routine

Wake up. Fight the traffic. Smile and serve for the next eight hours. Fight another traffic. Sleep. Receive monthly fee. Repeat.  That's basically my life right now.  Kebanyakan orang ngerasa ini normal, tapi dt ga ngerasa gitu. Rasanya ada yang salah dengan rutinitas tanpa tujuan. Kebanyakan orang bekerja karena mereka butuh uang. Well, dt juga butuh uang, tapi uang bukan motivasi utama dt kerja. Tantangan yang dt cari. dt ngerasa pekerjaan kita itu tempat aktualisasi diri. Which I don't feel right now. Mungkin itu yang bikin dt ngerasa ada yang salah dengan rutinitas dt.  Ada keinginan untuk keluar dari rutinitas yang ada sekarang, tapi selalu ada tembok yang bikin dt mikir ulang buat keluar. The Why Wall. Pertanyaan kenapa dt ada keinginan mundur dari rutinitas yang menurut banyak orang menguntungkan karena pekerjaan yang dt jalani sekarang adalah pekerjaan stabil, punya gengsi, mudah, dan berpenghasilan bagus. Dan jawaban kurang menantang kurang bisa...

Strangest Period

Menstrual syndrome kali ini benar-benar di luar kebiasaan. Biasanya saat period seperti ini, dt berlimpah energi, senyum terus mengembang, emosi meluap penuh optimisme, intinya masa terbaik dt justru pas masa period itu. Tapi period kali ini beda. Sumpah! Di mulai dari masa pre period dengan emosi labil yang berlebihan. Waktu itu kebetulan dt tanpa sengaja ikut rapat informal yang harusnya ga dt ikuti. Di sana para otak organisasi pada brainstorming memikirkan nasib organisasi ke depannya. Dan dt yang memang ga tahu duduk permasalahannya dan diem aja selama perbincangan itu (waktu itu sebenernya dt lagi asik nulis cerita) malah ngerasa bersalah. Ga jelas banget kan. Waktu itu, sesampai di kosan dt nangis sejadi-jadinya. Perasaan dt penuh rasa bersalah dan dt ngerasa seperti orang paling ga berguna sedunia.  Dan yang masuk golongan parah lagi adalah kemarin sore. Tiba-tiba dt merasa tertekan luar biasa. Depresi. Padahal detik sebelumnya dt masih ketawa-ketawa seneng sambil baca post...

It's about lying

You Are a Great Liar You can pretty much pull anything over on anyone. You are an expert liar, even if you don't lie very often. Are You a Good Liar? No comment deh... --" You Can Definitely Spot a Liar Maybe you have good instincts. Or maybe you just have a lot of experience with liars. Either way, it's pretty hard for someone to pull a fast one on you. You're like a human lie detector. Can You Spot a Liar? Well, so am I a great liar because i know the techniques? Or is it just in my blood? And the most important question is, am I really a great liar?