Melanjutkan pembicaraan tentang neraka. dt sempat bilang gini sama Revo. ”tahu ga kalau dt ga takut sama neraka.” Nah lo. Kok bisa coba? Yang jelas kalimat itu bukan muncul karena bawaan period, lo ya. Kalimat itu murni dari akal sehat dt yang masih waras. Ini cuma tentang perbedaan pola pikir aja kok.
Menurut dt, neraka adalah bentuk konsekuensi dari setiap pelanggaran yang kita lakukan. Dan sebagian besar perbuatan pelanggaran itu kita lakukan dengan penuh kesadaran. Sadar bahwa kita melakukan hal yang salah. Berbohong. Mencuri. Menjelek-jelekkan orang. Berprasangka buruk. Sebutkan saja satu-satu. Dan berhubung kita melakukan pelanggaran itu secara sadar, itu artinya kita juga harus siap dengan konsekuensi yang sudah ada. Neraka.
Dan itu yang dt rasakan. Melakukan tiap perbuatan yang dt ketahui dengan sadar bahwa itu dosa dan mau tak mau harus siap dengan pembalasannya. Itu sudah jadi tanggung jawab dt, kan? Kalau memang sudah jadi tanggung jawab, apa yang harus ditakutkan. Terima saja. Gitu aja kok repot.
Yang dt takutkan justru kalau ada orang yang merasa sedih saat mereka ga bisa ketemu dt di surga.
Kadang dt sendiri heran kenapa pola pikir dt bisa membuat berbagai hal bisa jadi sesimpel ini...
Beberapa minggu yang lalu di lini masa ( timeline ) Facebook dt berseliweran beberapa cuplikan layar ( screenshot ) curhatan buk-ibuk di salah satu grup tertutup di Facebook. Berhubung penasaran, jadilah dt gabung. Sekadar pingin lihat sendiri apa iya kebanyakan entrinya seperti cuplikan layar yang dt baca. Sayangnya, ternyata beneran. Selain entri kenalan dan berbagi masakan hari ini, curhatan para buk-ibuk ini biasanya berkisar tentang permasalahan ketidakharmonisan rumah tangga (entah dengan suami atau mertua) yang kebanyakan bersumber pada permasalahan finansial. Menurut dt, ini adalah salah satu permasalahan pernikahan yang bisa diminimalisir. Semacam, kalau memang belum stabil secara finansial ya jangan menikah dulu. dt bukan bilang kudu kaya baru boleh nikah lo, ya. Stabil secara finansial. Punya pemasukan tetap yang cukup untuk biaya hidup dua kepala paling tidak, kalau bisa lebih ya alhamdulillah. dt tetiba inget pernah baca (tapi lupa baca di mana) kalau 70% percera...
Comments
Post a Comment