Skip to main content

Holi-Bali-day part.1

Rasanya sudah lebih dari lima tahun dt ga jalan-jalan ke bali. Jadi untuk liburan kali ini, dt dan keluarga pergi ke pulau dewata yang satu ini.

Kalau dulu, dt selalu lewat jalur darat dan nyebrangin selat bali via ferry. And i love the wave of bali strait. Walau bagi beberapa orang ombak selat bali terasa besar, tapi atau dt justru di sana nikmatnya naik kapal ferry. Merasakan tiap debur ombak mencoba menghempas kapal yang mencoba membelainya. Tapi kali ini dt naik pesawat demi alasan kenyamanan.

Okay, first stop, Ngurah Rai. Yaeyalah, secara pake pesawat jadi emang kudu mandeg di sana. Nothing special, actually. Tapi menurut dt, untuk ukuran bandara internasional, Ngurah Rai terlalu biasa. Maksud dt, dengan traffic yang tinggi, harusnya Ngurah Rai bisa ngasih lebih dong. Gedung yang lebih bagus dan luas. Fasilitas yang lebih lengkap. Penyediaan garbarata. Atau pusat informasi pariwisata buat para turis. Tapi sayangnya yang kelihatan hanya seperti bandara lokal kecil di daerah pelosok.

First destination. Tanjung Benoa. Di sana dt diving dan parasailing. Pertama kalinya tuh buat dt. Diving tuh menyenangkan ternyata. Walau kuping pada sakit, tapi rasanya setimpal sama pemandangan yang dt lihat di bawah air. Begitu masuk ke dalam laut, rasanya seperti masuk ke dunia yang berbeda. Seakan semuanya bergerak lebih lambat, lebih lembut, dan lebih indah.

Saat parasailing pun ga kalah asik. Walau sangat jelas kalau waktunya kurang lama. Mungkin dt bisa menghabiskan waktu satu jam biar puas melayang-layang di atas laut ditarik kapal boat.

Comments

Popular posts from this blog

[30HM] H7 - Grup Curhat Buk-Ibuk: Masalah Ekonomi

Beberapa minggu yang lalu di lini masa ( timeline ) Facebook dt berseliweran beberapa cuplikan layar ( screenshot ) curhatan buk-ibuk di salah satu grup tertutup di Facebook. Berhubung penasaran, jadilah dt gabung. Sekadar pingin lihat sendiri apa iya kebanyakan entrinya seperti cuplikan layar yang dt baca. Sayangnya, ternyata beneran. Selain entri kenalan dan berbagi masakan hari ini, curhatan para buk-ibuk ini biasanya berkisar tentang permasalahan ketidakharmonisan rumah tangga (entah dengan suami atau mertua) yang kebanyakan bersumber pada permasalahan finansial. Menurut dt, ini adalah salah satu permasalahan pernikahan yang bisa diminimalisir. Semacam, kalau memang belum stabil secara finansial ya jangan menikah dulu. dt bukan bilang kudu kaya baru boleh nikah lo, ya. Stabil secara finansial. Punya pemasukan tetap yang cukup untuk biaya hidup dua kepala paling tidak, kalau bisa lebih ya alhamdulillah. dt tetiba inget pernah baca (tapi lupa baca di mana) kalau 70% percera...

Tiga Bulan Lewat

Yak, lagi-lagi dt vacuum ngeblog.. *ketawa mengenaskan* Sudah tiga bulan lebih dt ga ngeblog, dan beberapa hal yang terjadi selama tiga bulan ini. I get a job, as a trainer. Tahu sih agak melenceng dari jurusan waktu dt kuliah dulu. But i enjoy it. Dan sepertinya dt bisa lihat arah karir dt ke sebelah mana. Jadi tempat kerja dt adalah sebuah agensi SPG sebuah perusahaan susu multinasional yang sudah tersohor di Indonesia (halah :p). Ngarepnya sih, perusahaan itu bakal ngelirik dan ngerekrut dt dalam waktu dua tahun. Tapi kalau dalam dua tahun ga ada perkembangan yang menurut dt cukup pesat, mungkin dt bakal bertahan setahun lagi sambil cari opsi pekerjaan lain.. I get a partner, either. Dari dunia maya. Yang jelas mama setengah hati dengernya. Emang sih ga ada hujatan atau penolakan, tapi dt ngerasa kalau mama ga sreg saat tahu partner dt itu dt temuin di dunia maya. Mungkin mama takut dt jadi korban penipuan kek di tipi-tipi itu.. Selama itu terjadi beberapa drama yang bisa dt...

[30HM] H6: Resensi Buku: Daughter of God

Judul Buku: Daughter of God (2000) Penulis: Lewis Perdue Penerbit: Dastan Books Penerjemah: Bima Sudiarto Sinopsis Belakang Buku: Pemusnahan benda-benda seni kuno bernilai tinggi. Penculikan serta pembunuhan demi pembunuhan. Misteri dan konspirasi yang telah berusia ribuan tahun terungkap. Fondasi keimanan masyarakat modern terancam. Zoe Ridgeway, seorang broker seni terkemuka, pergi ke Swiss bersama suaminya, Seth, untuk menemui seorang kolektor benda seni. Sang Kolektor yang menjelang ajal itu ingin Zoe agar mengurus benda-benda seninya. Namun, sebelum semua urusan selesai, sang kolektor meninggal dunia dengan cara misterius dan rumahnya yang penuh dengan benda seni bernilai tinggi itu habis terbakar. Tak hanya itu, Zoe diculik dan Seth harus menghadapi orang-orang yang mengancam jiwanya. Tampaknya ada sesuatu yang seharusnya mereka tidak ketahui.Sesuatu yang keberadaannya telah lama ditutup-tutupi dan dikubur dalam-dalam oleh pihak-pihak tertentu. Zoe dan Seth terjerat ja...