Skip to main content

Insignificant Dilemma



Yang seorang blogger dan ga pernah ngalami dilema seperti komik di atas sila ngacung! Kalaupun memang ada, tolong bagi resepnya untuk menghasilkan entri tanpa meragukannya. Sering kali dt urung nginjek tombol publish karena setelah ngetik entri setumpuk, dt malah ragu dengan isi entrinya. Sebagai bukti, ada setumpuk list draft di list post dt. Belum lagi dengan file yang tertumpuk di memori laptop. Plus fiksi-fiksi yang ga pernah dt selesaikan.

Ragu.

Ragu dengan kemampuan diri sendiri.

Bukan karena ide yang dt punya itu jelek atau standar tapi karena salah satu kebiasaan jelek dt: ga fokus. Jadi biasanya setelah nulis panjang lebar, dt baca ulang, terus sebel karena sering kali dt ga benar-benar bisa menyampaikan apa yang sebenarnya dt ingin sampaikan. Entrinya jadi melebar ke mana-mana dan makin ga jelas juntrungannya.

Makanya sekarang dt sedang berjuang untuk meluruskan cara dt menulis.

Dilema ga penting lainnya adalah ide dt untuk pindah blog. Kalau kalian ngikuti blog dt dari awal, pasti sudah baca kalau dt bilang pindah blog tapi ujungnya balik lagi kemari hanya karena simplisitas blogger untuk dikostumisasi.

Sudah lah, untuk pindah ga pindahnya, lihat saja nanti. Toh masih ragu juga..

Comments

Popular posts from this blog

Routine

Wake up. Fight the traffic. Smile and serve for the next eight hours. Fight another traffic. Sleep. Receive monthly fee. Repeat.  That's basically my life right now.  Kebanyakan orang ngerasa ini normal, tapi dt ga ngerasa gitu. Rasanya ada yang salah dengan rutinitas tanpa tujuan. Kebanyakan orang bekerja karena mereka butuh uang. Well, dt juga butuh uang, tapi uang bukan motivasi utama dt kerja. Tantangan yang dt cari. dt ngerasa pekerjaan kita itu tempat aktualisasi diri. Which I don't feel right now. Mungkin itu yang bikin dt ngerasa ada yang salah dengan rutinitas dt.  Ada keinginan untuk keluar dari rutinitas yang ada sekarang, tapi selalu ada tembok yang bikin dt mikir ulang buat keluar. The Why Wall. Pertanyaan kenapa dt ada keinginan mundur dari rutinitas yang menurut banyak orang menguntungkan karena pekerjaan yang dt jalani sekarang adalah pekerjaan stabil, punya gengsi, mudah, dan berpenghasilan bagus. Dan jawaban kurang menantang kurang bisa...

Strangest Period

Menstrual syndrome kali ini benar-benar di luar kebiasaan. Biasanya saat period seperti ini, dt berlimpah energi, senyum terus mengembang, emosi meluap penuh optimisme, intinya masa terbaik dt justru pas masa period itu. Tapi period kali ini beda. Sumpah! Di mulai dari masa pre period dengan emosi labil yang berlebihan. Waktu itu kebetulan dt tanpa sengaja ikut rapat informal yang harusnya ga dt ikuti. Di sana para otak organisasi pada brainstorming memikirkan nasib organisasi ke depannya. Dan dt yang memang ga tahu duduk permasalahannya dan diem aja selama perbincangan itu (waktu itu sebenernya dt lagi asik nulis cerita) malah ngerasa bersalah. Ga jelas banget kan. Waktu itu, sesampai di kosan dt nangis sejadi-jadinya. Perasaan dt penuh rasa bersalah dan dt ngerasa seperti orang paling ga berguna sedunia.  Dan yang masuk golongan parah lagi adalah kemarin sore. Tiba-tiba dt merasa tertekan luar biasa. Depresi. Padahal detik sebelumnya dt masih ketawa-ketawa seneng sambil baca post...

It's about lying

You Are a Great Liar You can pretty much pull anything over on anyone. You are an expert liar, even if you don't lie very often. Are You a Good Liar? No comment deh... --" You Can Definitely Spot a Liar Maybe you have good instincts. Or maybe you just have a lot of experience with liars. Either way, it's pretty hard for someone to pull a fast one on you. You're like a human lie detector. Can You Spot a Liar? Well, so am I a great liar because i know the techniques? Or is it just in my blood? And the most important question is, am I really a great liar?