Skip to main content

Insignificant Dilemma



Yang seorang blogger dan ga pernah ngalami dilema seperti komik di atas sila ngacung! Kalaupun memang ada, tolong bagi resepnya untuk menghasilkan entri tanpa meragukannya. Sering kali dt urung nginjek tombol publish karena setelah ngetik entri setumpuk, dt malah ragu dengan isi entrinya. Sebagai bukti, ada setumpuk list draft di list post dt. Belum lagi dengan file yang tertumpuk di memori laptop. Plus fiksi-fiksi yang ga pernah dt selesaikan.

Ragu.

Ragu dengan kemampuan diri sendiri.

Bukan karena ide yang dt punya itu jelek atau standar tapi karena salah satu kebiasaan jelek dt: ga fokus. Jadi biasanya setelah nulis panjang lebar, dt baca ulang, terus sebel karena sering kali dt ga benar-benar bisa menyampaikan apa yang sebenarnya dt ingin sampaikan. Entrinya jadi melebar ke mana-mana dan makin ga jelas juntrungannya.

Makanya sekarang dt sedang berjuang untuk meluruskan cara dt menulis.

Dilema ga penting lainnya adalah ide dt untuk pindah blog. Kalau kalian ngikuti blog dt dari awal, pasti sudah baca kalau dt bilang pindah blog tapi ujungnya balik lagi kemari hanya karena simplisitas blogger untuk dikostumisasi.

Sudah lah, untuk pindah ga pindahnya, lihat saja nanti. Toh masih ragu juga..

Comments

Popular posts from this blog

Data Collecting Story (2)

dt tahu ini telat, tapi tetep aja pengen cerita. Jadi, malam sebelum malam pengambilan data, dt harus nyiapin segala sesuatunya. Dari print dan fotokopi lembar kuisioner dengan cara bikin repot mbak Mar *ngakak setan*, nyiapin timbangan berat badan (yang ini baru beli), nyiapin meteran buat ngukur tinggi badan (yang ini pake meteran baju), sampe nyiapin konsumsi buat responden besok. Nah, persiapan konsumsi ini yang pengen dt ceritain. Rencananya, setelah diwawancara, responden bakal dikasih konsumsi. Bukan nasi kotak mewah yang bisa bikin kenyang, sih. Cuma sekadar air mineral gelas plus dua buah roti yang semuanya dimasukkan ke dalam kotak kertas. Beda sama di Ngalam yang bisa pesen kue dalam kotak dalam jumah sedikit, di MudField ga bakal bisa kecuali kita pesen lebih dari 100 kotak. Padahal dt cuma butuh 70 kotak. Nah kalo pesen 100 siapa yang mau ngabisin sisa 30 kotaknya. Akhirnya beli kue sendiri, beli air mineral sendiri, dan beli kotaknya pun sendiri. Berhubung sudah t...

Routine

Wake up. Fight the traffic. Smile and serve for the next eight hours. Fight another traffic. Sleep. Receive monthly fee. Repeat.  That's basically my life right now.  Kebanyakan orang ngerasa ini normal, tapi dt ga ngerasa gitu. Rasanya ada yang salah dengan rutinitas tanpa tujuan. Kebanyakan orang bekerja karena mereka butuh uang. Well, dt juga butuh uang, tapi uang bukan motivasi utama dt kerja. Tantangan yang dt cari. dt ngerasa pekerjaan kita itu tempat aktualisasi diri. Which I don't feel right now. Mungkin itu yang bikin dt ngerasa ada yang salah dengan rutinitas dt.  Ada keinginan untuk keluar dari rutinitas yang ada sekarang, tapi selalu ada tembok yang bikin dt mikir ulang buat keluar. The Why Wall. Pertanyaan kenapa dt ada keinginan mundur dari rutinitas yang menurut banyak orang menguntungkan karena pekerjaan yang dt jalani sekarang adalah pekerjaan stabil, punya gengsi, mudah, dan berpenghasilan bagus. Dan jawaban kurang menantang kurang bisa...

It's about lying

You Are a Great Liar You can pretty much pull anything over on anyone. You are an expert liar, even if you don't lie very often. Are You a Good Liar? No comment deh... --" You Can Definitely Spot a Liar Maybe you have good instincts. Or maybe you just have a lot of experience with liars. Either way, it's pretty hard for someone to pull a fast one on you. You're like a human lie detector. Can You Spot a Liar? Well, so am I a great liar because i know the techniques? Or is it just in my blood? And the most important question is, am I really a great liar?