Skip to main content

BuBar

Bulan Ramadhan rasanya belum lengkap kalau belum ada buka bareng. Bisa dibilang acara buka bareng pasti selalu ada dalam agenda selama bulan Ramadhan. Buka bareng sama temen-temen SMA, SMP, atau temen SD. Buka bareng sama temen-temen satu organisasi. Atau seperti yang dt agendakan kemarin, buka bareng temen-temen satu angkatan satu jurusan. Gizi 2005.

Setelah perdebatan alot dengan teman-teman sekelas tentang kapan dilaksanakan, di mana tempat acara berlangsung, dan berapa harga yang harus ditanggung, keputusan berujung pada sebuah nama rumah makan Wapo. Well, ga tahu Wapo? Wapo tuh, Warung Pojok. Bentuknya sih bukan warung, tapi sebuah rumah makan yang cukup besar yang berkapasitas sekitar 300an orang yang jelas bisa menampung jumlah kami sekelas. 

Nah, pas hari H ini, dt bingung gimana caranya biar bisa nyampe ke Wapo. Kan ga mungkin dt mau ngerelain duit sepuluh ribu yang sudah melayang untuk bayar iuran buka bareng dengan ga dateng pas hari H. Jadi, harus naik apa ke sana? Naek angkot? Weh, jalan kakinya jauh bangets. Berarti pilihan kedua adalah cari tebengan. dt pun menyiapkan beberapa target yang bisa ditodong. Diniatin mulai dari Putro (tapi rasanya ga nyaman juga kalo dibonceng cowok), Dina (yang ternyata sama Ekanti), Ilmi (yang ternyata sama Amal), Septa (yang ternyata sama Haprino), dan pilihan terakhir adalah Olipo. Olipo tuh biasanya bawa mobil. And she’s the best choice. Akhirnya, bareng Juju and Wiwi’ kami nebeng mobil Olipo yang ternyata disupiri langsung sama papanya Olipo (Makasih sudah dianterin, Om... ^-^).

Sesampainya di Wapo, langsung deh rebutan pilih-pilih tempat duduk yang paling strategis. dt mah ga pilih-pilih, yang penting deket sama makanan, itu udah cukup, hehehe... dan dt berakhir di antara Haprino dan Ika Sari Lorena. Menu untuk buka kali ini lumayan. Diawali dengan ta’jil (yang menurut dt rasanya aneh) kemanisan yang berisi campuran degan, sirsak, selasih, jelly, dan nata de coco. Dilanjutkan dengan makan besar yang bisa dipilih dari nasi (yang sudah dingin), ikan kakap bakar (yang menurut dt terlalu manis), ayam goreng kremes (katanya sih enak, tapi dt ga ngicipin. Keburu kenyang), tahu goreng (yang juga ga dt icipin), tempe goreng (yang kata Ika rasanya kek tempe nyaris bosok), tumis kangkung (yang digilai Haprino. Sumpah deh, Prin, segitunya kalo sama tumis kangkung...), dan lalapan.

Diujung acara, alias saat makanan-makanan yang dt sebutin tadi sudah berhijrah ke lambung masing-masing, Cikiri Astutik, eh, Cici mendekati dt dan bilang, ”Bayar yuk.” Hue? Kamsudnya apa coba? Ternyata eh, ternyata, cerita punya cerita, terjadi sebuah kesalahpahaman. Jadi, untuk ngebayar acara makan ini, butuh biaya 21.000 perorangnya dan diputuskan kalau 11.000 itu disubsidi dari kas kelas, jadi tiap anak tinggal bayar 10.000. Kebetulan dua semester lalu, dt emang jadi bendahara kelas bareng Ellen, tapi mulai semester ini sudah terjadi pemindahan jabatan dan kekuasaan. Jadi, urusan perduitan kelas udah ga lagi dt pegang, tapi sepertinya masih tertancap di benak temen-temen kalo yang namanya bendahara kelas itu dt. Di sanalah tragedinya berasal. 

Cici mengira, kalau uang kas masih dt yang pegang dan dt membawanya buat bayar acara ini. Padahal, duit kas yang dt pegang udah habis dan tinggal yang ada di tabungan yang dipegang Ellen. Ditambah lagi, engga ada komunikasi sama sekali ke dt maupun ke Ellen kalau mereka mau pake duit kas sebanyak itu. Maka dipanggillah Putro sang komting tahun lalu yang ikut ngurus buber kali ini. Nah, si Putro pikir, Cici sudah ngasih tahu bendahara, sedangkan Cici pikir Putro yang berkewajiban untuk ngasih tahu bendahara, sedangkan (lagi) Enjel yang narik duit sepuluh ribu dari temen-temen lebih ga tahu apa-apa lagi, ”Aku tahunya cuma disuruh narik duit sepuluh ribu itu.”

Weh, kalau gini terus mah urusan ga bakal selesai. Bisa-bisa kita kudu cuci piring rame-rame dulu buat ngelunasin sisa tagihan sebesar 550.000. Tapi akhirnya dt menelorkan ide brilian *digaplok* (biasa aja kali). Idenya adalah mengumpulkan uang yang ada dari temen-temen sendiri. Pasti ada dong, yang bawa duit lebih buat disumbangin untuk sementara dan besok baru diganti pake duit kas. Nyot-nyot nyumbang 300.000, Putro urun 70.000, and dt sendiri nyodorin 200.000. Voila! Tagihan lunas. Nggak perlu cuci piring deh.... Wkwkwkwk...

Comments

Popular posts from this blog

[30HM] H6: Resensi Buku: Daughter of God

Judul Buku: Daughter of God (2000) Penulis: Lewis Perdue Penerbit: Dastan Books Penerjemah: Bima Sudiarto Sinopsis Belakang Buku: Pemusnahan benda-benda seni kuno bernilai tinggi. Penculikan serta pembunuhan demi pembunuhan. Misteri dan konspirasi yang telah berusia ribuan tahun terungkap. Fondasi keimanan masyarakat modern terancam. Zoe Ridgeway, seorang broker seni terkemuka, pergi ke Swiss bersama suaminya, Seth, untuk menemui seorang kolektor benda seni. Sang Kolektor yang menjelang ajal itu ingin Zoe agar mengurus benda-benda seninya. Namun, sebelum semua urusan selesai, sang kolektor meninggal dunia dengan cara misterius dan rumahnya yang penuh dengan benda seni bernilai tinggi itu habis terbakar. Tak hanya itu, Zoe diculik dan Seth harus menghadapi orang-orang yang mengancam jiwanya. Tampaknya ada sesuatu yang seharusnya mereka tidak ketahui.Sesuatu yang keberadaannya telah lama ditutup-tutupi dan dikubur dalam-dalam oleh pihak-pihak tertentu. Zoe dan Seth terjerat ja...

Balik Kucing

Apa itu balik kucing? Balik kucing  itu istilah orang jawa saat seseorang memutuskan untuk meninggalkan sesuatu tapi kemudian kembali lagi. So.. yeah, dt akhirnya memutuskan kembali ke blogger *ngakak nista*. Padahal di  blog lama  dt sudah dengan banternya say goodbye dan bilang pindah ke  tumblr  yang juga jarang banget dt isi. Sebenernya dt mulai jarang blogging itu karena keringnya ide nulis. Penyebabnya? Mari kita kembali menyalahkan skripshit dan revishit. Karena kurang bahan yang dibaca. Karena yang dibaca hanya materi tugas akhir. Karena setiap kata diperah hingga tetes terakhir untuk mengisi tiap lembar tugas akhir sampai ga ada yang tersisa untuk blog. Kalau emang ga ada ide nulis, terus ngapain pindah ke tumblr?  Nah, yang ini dt punya dua alasan yang ga penting banget. Satu, karena ternyata alamat site untuk akuisisi nama dt masih tersedia (di blogger sudah taken). Dua, karena dt jatuh cinta dengan satu theme di tumblr. Just it. Setelah ...

[30HM] H7 - Grup Curhat Buk-Ibuk: Masalah Ekonomi

Beberapa minggu yang lalu di lini masa ( timeline ) Facebook dt berseliweran beberapa cuplikan layar ( screenshot ) curhatan buk-ibuk di salah satu grup tertutup di Facebook. Berhubung penasaran, jadilah dt gabung. Sekadar pingin lihat sendiri apa iya kebanyakan entrinya seperti cuplikan layar yang dt baca. Sayangnya, ternyata beneran. Selain entri kenalan dan berbagi masakan hari ini, curhatan para buk-ibuk ini biasanya berkisar tentang permasalahan ketidakharmonisan rumah tangga (entah dengan suami atau mertua) yang kebanyakan bersumber pada permasalahan finansial. Menurut dt, ini adalah salah satu permasalahan pernikahan yang bisa diminimalisir. Semacam, kalau memang belum stabil secara finansial ya jangan menikah dulu. dt bukan bilang kudu kaya baru boleh nikah lo, ya. Stabil secara finansial. Punya pemasukan tetap yang cukup untuk biaya hidup dua kepala paling tidak, kalau bisa lebih ya alhamdulillah. dt tetiba inget pernah baca (tapi lupa baca di mana) kalau 70% percera...