Skip to main content

Women Should Work

Well, at least that what i think...

Ini berawal saat dt membaca status facebook temen yang bilang: “berapa usia ideal cewek nikah, sih?” Nah, saat pengen ngirim comment, tak disangka tak dinyana ternyata dt kehabisan pulsa. Maklumlah, kalo udah online kadang sering kalap dan lumayan sering kejadian model gini. Jadilah dt kirim komentar dt lewat sms (pulsa online sama pulsa sms terpisah, fyi).
dt: Kata mama sih, umur 24—25an lah yang pas. Kenapa? Udah ada yang ngelamar nih?
Adina: Belum ngelamar sih. Iseng-iseng aja dia ngajak nikah. Haha.. Rabu depan aku 23 lo, bentar lagi dong. Emang dt mau nikah umur berapa?
dt: Ebuset, ngajak nikah kok iseng. Haha, tuwek awakmu! *tongue* dt sih ntar aja 28an. Pengen kerja dulu biar dapet financial freedom dulu sebelum nikah biar punya bargaining position di mata suami (halah bahasaku)
Adina: Emang kalo punya financial freedom bisa dapet bargaining position? Aku masih ga ngeh korelasinya apa? *garuk kepala*
note: texting di atas telah dipersingkat dan diedit demi kenyamanan bersama :p

Nah, acara texting itu berhenti saat dt bilang kalo mendingan dibahas kalo ketemu karena ga bakal cukup kalo dijelasin selembar sms (kuliah satu sks aja belum tentu cukup).

Sampe sekarang dt masih percaya kalau wanita sebaiknya juga bekerja dan punya penghasilan sendiri dan punya kebebasan finansialnya sendiri. Karena kalau melihat pola keluarga di sekitar dt, dt malah melihat ketidakseimbangan di keluarga yang ibunya justru ga bekerja. Eh, salah, ga berpenghasilan sendiri, lebih tepatnya.

Kenapa pake istilah tidak memiliki penghasilan sendiri? Karena menurut dt, ibu rumah tangga juga sebuah pekerjaan. Sebuah karir (yang harusnya juga memberi penghasilan yang ga mereka dapat). Dan kalau dilihat sampai sekarang, status pekerjaan ibu rumah tangga masih disamakan dengan para pengangguran yang ga kerja karena mereka ga menghasilkan rupiah.

Ah, such injustice..

Dan hanya karena tidak membantu mengisikan koin ke celengan ayam, ibu rumah tangga sering jadi warga nomor kesekian karena dirinya (dan mungkin para suami juga) merasa hanya berfungsi sebagai tukang makan gaji suami yang sering kali pendapatnya tidak terlalu didengar dan sering kali diremehkan.

Lah, ibu rumah tangga kan ngurus anak dan rumah.

Menurut dt sih, urusan ngurus anak dan rumah itu tergantung komitmen tiap orang. Ga begitu ngaruh apakah sang ibu bekerja atau berkonsentrasi jadi ibu rumah tangga. Coba lihat wanita-wanita yang mengaku sebagai ibu rumah tangga, apa mereka masih sempat mampir ke dapur buat masak masakin makan malem buat orang serumah? Apa mereka ga punya pembantu atau babysitter yang nongkronging anaknya? Apa anak-anak mereka memberikan kepercayaan pada mereka? Apa anak-anak mereka membagi setiap cerita mereka hari itu entah yang sepele hingga yang rahasia pada mereka? Kalau iya, well, mereka benar-benar ibu rumah tangga.

Sekarang coba lirik wanita pekerja yang berkomitmen untuk mengurus keluarga, toh mereka masih punya waktu untuk keluarganya, suaminya, anak-anaknya. Terus sekarang lirik wanita tidak bekerja yang ngaku ibu rumah tangga tapi tetep ga tahu apa acara tivi favorit anaknya. Ada kan? Well, once again, being parents are all about commitment. Dan ga cuma buat wanitanya, tapi juga kaum prianya.

Kebanyakan pria bakal angkat tangan dan kaki kalau disuruh ngurus anak dan lebih milih kerja atau sok tenggelam dengan kesibukannya sendiri. Aduh, aku sudah seharian kerja masa disuruh ngurus anak juga. Yeah, kerja itu alasan yang paling sering dipake para lelaki buat melarikan diri untuk ngasuh anak. Dan kalau istri juga kerja dan berpenghasilan, otomatis suami ga bisa pake kalimat pamungkas itu. Eh, tapi bukan berarti dua-duanya jadi ga mau ngurus anak, ya.

note: Kalau ga ada komitmen untuk ngurus dan ngedidik anak, tolong jangan sok-sok-an bikin anak, ya… *wink*

Comments

Popular posts from this blog

[30HM] H6: Resensi Buku: Daughter of God

Judul Buku: Daughter of God (2000) Penulis: Lewis Perdue Penerbit: Dastan Books Penerjemah: Bima Sudiarto Sinopsis Belakang Buku: Pemusnahan benda-benda seni kuno bernilai tinggi. Penculikan serta pembunuhan demi pembunuhan. Misteri dan konspirasi yang telah berusia ribuan tahun terungkap. Fondasi keimanan masyarakat modern terancam. Zoe Ridgeway, seorang broker seni terkemuka, pergi ke Swiss bersama suaminya, Seth, untuk menemui seorang kolektor benda seni. Sang Kolektor yang menjelang ajal itu ingin Zoe agar mengurus benda-benda seninya. Namun, sebelum semua urusan selesai, sang kolektor meninggal dunia dengan cara misterius dan rumahnya yang penuh dengan benda seni bernilai tinggi itu habis terbakar. Tak hanya itu, Zoe diculik dan Seth harus menghadapi orang-orang yang mengancam jiwanya. Tampaknya ada sesuatu yang seharusnya mereka tidak ketahui.Sesuatu yang keberadaannya telah lama ditutup-tutupi dan dikubur dalam-dalam oleh pihak-pihak tertentu. Zoe dan Seth terjerat ja...

Refusing Gift

Pernah menginginkan sesuatu tapi yang didapat ga bener-bener sesuai yang diinginkan? It's happening on me right now. Biasanya saat menghadapi yang kek gini dt bisa dengan legawa menerima dan bersyukur. Tapi ga tahu kenapa kali ini dt malah merasa sebal luar biasa. Jadi ceritanya semalam dt n adek ngomongin tentang mandphone yang lagi dipengenin. Adek pengen nokia X5 dan dt yang lagi naksir android pengen antara samsung 5333 atau LG GW620. Di sini mama ikutan lihat n denger pas dt browsing sambil ber-kya-kya lihat gambar-gambar henpon yang kita pengenin. Entah ada angin apa, barusan mama yang seharian emang keluar ke Surabaya, pulang-pulang dateng n nyodorin sebuah handphone LG layar touchscreen sambil bilang "ini buat kakak" Dan reaksi jujur pertama dt adalah "apaan nih maksudnya?" Sepertinya mama salah nangkep waktu denger n lihat dt semalem. Dikiranya dt pengen henpon touchscreen, mengingat most android emang touchscreen. Mungkin maksud mama mau...

Strangest Period

Menstrual syndrome kali ini benar-benar di luar kebiasaan. Biasanya saat period seperti ini, dt berlimpah energi, senyum terus mengembang, emosi meluap penuh optimisme, intinya masa terbaik dt justru pas masa period itu. Tapi period kali ini beda. Sumpah! Di mulai dari masa pre period dengan emosi labil yang berlebihan. Waktu itu kebetulan dt tanpa sengaja ikut rapat informal yang harusnya ga dt ikuti. Di sana para otak organisasi pada brainstorming memikirkan nasib organisasi ke depannya. Dan dt yang memang ga tahu duduk permasalahannya dan diem aja selama perbincangan itu (waktu itu sebenernya dt lagi asik nulis cerita) malah ngerasa bersalah. Ga jelas banget kan. Waktu itu, sesampai di kosan dt nangis sejadi-jadinya. Perasaan dt penuh rasa bersalah dan dt ngerasa seperti orang paling ga berguna sedunia.  Dan yang masuk golongan parah lagi adalah kemarin sore. Tiba-tiba dt merasa tertekan luar biasa. Depresi. Padahal detik sebelumnya dt masih ketawa-ketawa seneng sambil baca post...