Skip to main content

What a Geisha is

Dalam berapa hari terakhir ini dt mencekoki diri sendiri dengan film Memoirs of a Geisha. Yeah, dt tahu itu film lama. Tapi semua juga tahu kalau itu film bagus. Jadi jangan salahkan dt kalau dt nonton ulang untuk kesekian kali. Lagi. Lagi. Dan lagi. Dan entah kenapa dt ingin punya kemampuan layaknya seorang Geisha.

Menurut kalian, apa Geisha itu? Pelacur? Wew, kalian salah besar. Menurut bahasa, Geisha yang terdiri dari dua huruf kanji, yaitu Gei (yang artinya seni) dan Sha (yang artinya orang), memiliki arti seniman. Jadi bisa dibilang kalau Geisha adalah karya seni berjalan. Setiap gerakan, suara, dan kata-kata dihasilkan oleh seorang Geisha adalah seni. Cara mereka bertindak, berbicara berjalan, duduk, tidur, bahkan melihat, memiliki tekniknya sendiri. Bisa dibilang, Geisha itu seperti sosok Barbie-nya Jepang. Sebuah sosok sempurna yang isinya hanya misteri dari keindahan.

Sejak jaman Meiji yang berawal sekitar pertengahan abad 19, Geisha mulai dikenal. Yang namanya Geisha awalnya adalah seorang pria, sedangkan yang wanita dikenal sebagai Odoriko. Nah, dt ga tahu sejak kapan seniman wanita juga disebut sebagai Geisha. Nah, sekarang apa sih kerjaannya seorang Geisha? They entertain. Menghibur. Mereka menari, menyanyi, memainkan musik, menuangkan sake, dan menemanimu ngobrol.

Yang Geisha lakukan saat bekerja kebanyakan adalah menemani klien mereka. Jaman baheula dulu, setiap pernikahan kalangan atas adalah pernikahan yang diatur yang biasanya mereka juga ga bebas untuk berkeluh-kesah dengan istri atau anggota keluarga yang lain. Makanya mereka membeli jasa Geisha untuk menemani mereka. Mendengar dan menghibur mereka. Everyone wants to be heard. Dan inget, no sexual things include.

Hm, kalo ga bawa-bawa hubungan seksual, kenapa Geisha bisa dikonotasikan sebagai pelacur? Well, semuanya berawal sejak Perang Dunia ke-2, di mana Jepang ikut ambil andil. Saat Jepang kalah dan negara mereka mulai "dijajah" Amerika, warga Jepang mau ga mau kudu menerima keberadaan tentara Amerika di tanah mereka. Dan layaknya tuan rumah yang baik, Jepang berusaha menunjukkan keramahan mereka dengan menyajikan budaya terbaik oleh seniman terbaik. Para Geisha dipanggil. Bagi tentara berpendidikan dan berpangkat tinggi, atau pengusaha Amerika dari kalangan atas tentu senang dengan keramah-tamahan dan keindahan seni tradisional Jepang.

Tapi bagaimana dengan tentara kelas bawah yang hanya tahu menerima perintah atasan mereka? Mereka ga peduli dengan misteri Geisha dalam balutan kimono tebal. Mereka ga peduli kelembutan gerakan butō yang Geisha tarikan. Mereka ga peduli indahnya alunan musik hasil petikan shamisen para Geisha. Mereka ga peduli dengan kemampuan berbahasa dan berbicara para Geisha. Yang mereka pedulikan hanya wanita-wanita dengan dada dan paha terbuka. Jugun Ianfu. Pelacur-pelacur dalam kimono tipis dengan bedak tebal dan bibir merah. Tapi tetep aja para tentara yang ga ngerti budaya Jepang menyebut mereka dengan sebutan Geisha.

Dan asal kalian tahu, Geisha asli itu orang yang berpendidikan. Mereka harus bisa membaca, menulis, tahu sejarah dan budaya, bisa berpuisi dan berpantun, bisa memainkan musik dan menari, intinya yang kek dt bilang tadi. Sebuah karya seni berjalan yang mampu menghadapi orang-orang dengan bahasa dan tindakan yang cerdik. Lagipula, untuk bisa jadi temen ngobrol yang sebanding dan tidak membosankan dari orang-orang kalangan atas yang berpendidikan, para Geisha juga ga boleh kalah tinggi pendidikannya. Makanya cuma para kalangan atas yang bisa menjangkau dan membeli jasa para Geisha. Karena jasa Geisha mahal. Berapa duit yang keluar untuk memfasilitasi pendidikan mereka? Berapa duit yang keluar untuk memoles diri dengan make up dan kimono sutra yang mahalnya naudzubillah? Berapa duit pula buat biaya hidup dan makan mereka?

Euh, jadi makin ngelantur, kan...

Jadi yang dt inginkan adalah kemampuan mendengar dan menghibur seorang Geisha. Menjadi teman ngobrol yang sebanding untuk tiap orang. Tahu kan kalau dt seorang calon dietitian alias konselor nutrisi yang intinya nanti kerjaan dt itu jual omongan? Itu artinya, sebelum omongan dt didenger orang lain, dt harus denger orang lain dulu. dt harus dapetin kepercayaan orang lain dulu. Sebelum dt bisa nentukan dan nganjurkan sesuatu untuk mereka, dan membuat mereka menuruti saran yang dt kasih.

Anyway, dt masih takjub dengan sosok Geisha. Bisa dibilang, mereka adalah boneka. Mengatur diri begitu ketat agar dapat selalu menjadi sosok sempurna seperti yang diinginkan dan dikhayalkan setiap orang. Mereka tidak diizinkan memiliki keinginannya sendiri. Mereka tidak diizinkan untuk memilih cintanya sendiri. Karena mereka tidak punya pilihan lain selain menjadi boneka dalam kaca yang dipuja orang dan harus tampak sempurna setiap saat.

Kalau dipikir-pikir siapa sih yang mau hidup dalam segala ikatan peraturan yang begitu mengikat sampai-sampai ga diizinkan untuk bertindak sesuai keinginan diri sendiri? Ga ada. dt yakin ga ada.

We become Geisha not to pursue our own destinies. We become Geisha because we have no choice. - Mameha, Memoirs of a Geisha.

Comments

Popular posts from this blog

[30HM] H6: Resensi Buku: Daughter of God

Judul Buku: Daughter of God (2000) Penulis: Lewis Perdue Penerbit: Dastan Books Penerjemah: Bima Sudiarto Sinopsis Belakang Buku: Pemusnahan benda-benda seni kuno bernilai tinggi. Penculikan serta pembunuhan demi pembunuhan. Misteri dan konspirasi yang telah berusia ribuan tahun terungkap. Fondasi keimanan masyarakat modern terancam. Zoe Ridgeway, seorang broker seni terkemuka, pergi ke Swiss bersama suaminya, Seth, untuk menemui seorang kolektor benda seni. Sang Kolektor yang menjelang ajal itu ingin Zoe agar mengurus benda-benda seninya. Namun, sebelum semua urusan selesai, sang kolektor meninggal dunia dengan cara misterius dan rumahnya yang penuh dengan benda seni bernilai tinggi itu habis terbakar. Tak hanya itu, Zoe diculik dan Seth harus menghadapi orang-orang yang mengancam jiwanya. Tampaknya ada sesuatu yang seharusnya mereka tidak ketahui.Sesuatu yang keberadaannya telah lama ditutup-tutupi dan dikubur dalam-dalam oleh pihak-pihak tertentu. Zoe dan Seth terjerat ja...

Refusing Gift

Pernah menginginkan sesuatu tapi yang didapat ga bener-bener sesuai yang diinginkan? It's happening on me right now. Biasanya saat menghadapi yang kek gini dt bisa dengan legawa menerima dan bersyukur. Tapi ga tahu kenapa kali ini dt malah merasa sebal luar biasa. Jadi ceritanya semalam dt n adek ngomongin tentang mandphone yang lagi dipengenin. Adek pengen nokia X5 dan dt yang lagi naksir android pengen antara samsung 5333 atau LG GW620. Di sini mama ikutan lihat n denger pas dt browsing sambil ber-kya-kya lihat gambar-gambar henpon yang kita pengenin. Entah ada angin apa, barusan mama yang seharian emang keluar ke Surabaya, pulang-pulang dateng n nyodorin sebuah handphone LG layar touchscreen sambil bilang "ini buat kakak" Dan reaksi jujur pertama dt adalah "apaan nih maksudnya?" Sepertinya mama salah nangkep waktu denger n lihat dt semalem. Dikiranya dt pengen henpon touchscreen, mengingat most android emang touchscreen. Mungkin maksud mama mau...

Strangest Period

Menstrual syndrome kali ini benar-benar di luar kebiasaan. Biasanya saat period seperti ini, dt berlimpah energi, senyum terus mengembang, emosi meluap penuh optimisme, intinya masa terbaik dt justru pas masa period itu. Tapi period kali ini beda. Sumpah! Di mulai dari masa pre period dengan emosi labil yang berlebihan. Waktu itu kebetulan dt tanpa sengaja ikut rapat informal yang harusnya ga dt ikuti. Di sana para otak organisasi pada brainstorming memikirkan nasib organisasi ke depannya. Dan dt yang memang ga tahu duduk permasalahannya dan diem aja selama perbincangan itu (waktu itu sebenernya dt lagi asik nulis cerita) malah ngerasa bersalah. Ga jelas banget kan. Waktu itu, sesampai di kosan dt nangis sejadi-jadinya. Perasaan dt penuh rasa bersalah dan dt ngerasa seperti orang paling ga berguna sedunia.  Dan yang masuk golongan parah lagi adalah kemarin sore. Tiba-tiba dt merasa tertekan luar biasa. Depresi. Padahal detik sebelumnya dt masih ketawa-ketawa seneng sambil baca post...