Skip to main content

A Reallife Networld


i'm in the point where i want my reallife back which i have to leave mynet world that i already love so bad.. #lifeless
Itu yang dt tweet tengah malam tadi yang sayangnya langsung dt hapus.

dt menganggapnya sebagai racauan tengah malam. Tapi kalau dipikir lagi, mungkin tweet itu ada benernya. I do love my networld. Di dunia maya dt sudah membangun dunia dt sendiri, dt belajar banyak, dan dt juga nemu banyak manusia-manusia yang lebih teman daripada teman di dunia nyata.

Aneh kah?

Kalau mama dt pasti bilang "Aneh banget. Kok bisa berteman dengan manusia yang tahu bentuknya aja engga? Kok bisa percaya dengan orang yang pernah bertatap muka aja belum?"

Kalo ditanya kok bisa, ya bisa aja. Buktinya bisa..

Tapi mungkin kalian yang sudah larut dan terbiasa dengan dunia maya pasti menganggap hal itu hal yang biasa. Sepertinya generasi sekarang memang lebih terbiasa berinteraksi dengan barang daripada manusia langsung. Ah, teknologi.

Entah kenapa dt merasa sedikit takut dengan kenyataan itu. Apa bener dt termasuk orang yang lebih mampu berinteraksi dengan barang? Apa bener dt kemampuan berinteraksi langsung dengan manusia sudah berkurang? Kalo beneran iya, ngeri..

Comments

Popular posts from this blog

Data Collecting Story (2)

dt tahu ini telat, tapi tetep aja pengen cerita. Jadi, malam sebelum malam pengambilan data, dt harus nyiapin segala sesuatunya. Dari print dan fotokopi lembar kuisioner dengan cara bikin repot mbak Mar *ngakak setan*, nyiapin timbangan berat badan (yang ini baru beli), nyiapin meteran buat ngukur tinggi badan (yang ini pake meteran baju), sampe nyiapin konsumsi buat responden besok. Nah, persiapan konsumsi ini yang pengen dt ceritain. Rencananya, setelah diwawancara, responden bakal dikasih konsumsi. Bukan nasi kotak mewah yang bisa bikin kenyang, sih. Cuma sekadar air mineral gelas plus dua buah roti yang semuanya dimasukkan ke dalam kotak kertas. Beda sama di Ngalam yang bisa pesen kue dalam kotak dalam jumah sedikit, di MudField ga bakal bisa kecuali kita pesen lebih dari 100 kotak. Padahal dt cuma butuh 70 kotak. Nah kalo pesen 100 siapa yang mau ngabisin sisa 30 kotaknya. Akhirnya beli kue sendiri, beli air mineral sendiri, dan beli kotaknya pun sendiri. Berhubung sudah t...

Routine

Wake up. Fight the traffic. Smile and serve for the next eight hours. Fight another traffic. Sleep. Receive monthly fee. Repeat.  That's basically my life right now.  Kebanyakan orang ngerasa ini normal, tapi dt ga ngerasa gitu. Rasanya ada yang salah dengan rutinitas tanpa tujuan. Kebanyakan orang bekerja karena mereka butuh uang. Well, dt juga butuh uang, tapi uang bukan motivasi utama dt kerja. Tantangan yang dt cari. dt ngerasa pekerjaan kita itu tempat aktualisasi diri. Which I don't feel right now. Mungkin itu yang bikin dt ngerasa ada yang salah dengan rutinitas dt.  Ada keinginan untuk keluar dari rutinitas yang ada sekarang, tapi selalu ada tembok yang bikin dt mikir ulang buat keluar. The Why Wall. Pertanyaan kenapa dt ada keinginan mundur dari rutinitas yang menurut banyak orang menguntungkan karena pekerjaan yang dt jalani sekarang adalah pekerjaan stabil, punya gengsi, mudah, dan berpenghasilan bagus. Dan jawaban kurang menantang kurang bisa...

It's about lying

You Are a Great Liar You can pretty much pull anything over on anyone. You are an expert liar, even if you don't lie very often. Are You a Good Liar? No comment deh... --" You Can Definitely Spot a Liar Maybe you have good instincts. Or maybe you just have a lot of experience with liars. Either way, it's pretty hard for someone to pull a fast one on you. You're like a human lie detector. Can You Spot a Liar? Well, so am I a great liar because i know the techniques? Or is it just in my blood? And the most important question is, am I really a great liar?