Skip to main content

The New F Word

Sebuah respon terhadap entri seorang teman pada 071008.

Kalau kalian suka nonton the Oprah Show, kalian pasti tahu apa itu the new F word. Forgive. Sebenarnya pembicaraan ini sudah lama dibahas di acara talk show itu. Jadi, mohon maaf sebelumnya kalau ternyata tidak semenggugah saat dt nonton acaranya secara langsung.

Saat seseorang menyakiti kita, sengaja atau tidak, hal berikutnya adalah sebuah pilihan bagi kita. Melupakan? Mengingat? Memaafkan? Walau dengan mudah kita menentukan yang mana, terkadang saat melaksanakannya tidak semudah keinginan kita.

Sebagai orang timur, kita —mending jangan pake kata kita, deh— dt diajari untuk selalu bersikap legowo, berlapang dada. Memaafkan setiap kesalahan bahkan sebelum orang tersebut meminta maaf. Sulit, kah? Sangat sulit awalnya. Kenapa dt harus memberi maaf sementara orang itu belum mau meminta maaf? Butuh waktu dan latihan untuk dapat dengan mudah memaafkan orang lain dan dengan ringan memaafkan saat orang lain menyakitimu.
Menurut dt, memaafkan adalah sebuah kondisi di mana saat dirimu, paling tidak, dapat merasa plain —tawar— saat mengingat sebuah kenangan yang menyakitkan. Tidak lagi merasa sakit, pedih, atau terluka. Memaafkan sendiri punya berbagai bentuk.

Umumnya orang-orang mengartikan memaafkan dengan melupakan sebuah kejadian dan bersikap layaknya tidak terjadi apa-apa. Melepaskan rasa sakit dan membiarkannya terhapus bersama waktu. 
Itu yang biasanya kita lakukan. Tapi hati-hati, apa kita sudah benar-benar melupakannya? Menghapusnya? Atau ternyata kita hanya menumpuk semua kenangan kecil itu di sudut gudang memori yang paling dalam? Karena saat tiba-tiba kenangan itu muncul kembali dan kau masih merasa sakit, itu tanda bahwa kau belum benar-benar memaafkan. Hanya berpura-pura —dt ulang, pura-pura— melenyapkannya. 

Bentuk yang lain dari memaafkan adalah justru memigura dan menghias kenangan pahit itu. Memajangnya sebagai pajangan, trofi, atau sekadar pengingat. Dan tiap kali mengenangnya, kau akan tertawa kecil (bukan ketawa hampa, lo). Ini adalah tahap memaafkan yang menurut dt paling susah. Hanya orang yang memiliki kebijakan tingkat tinggi untuk bisa melihat keindahan dari hal yang paling menyakitkan. 

Memaafkan namun tetap mengingat kejadian pahit itu lalu berusaha terus menjalani hidup dengan segala perubahan yang terjadi karena rasa sakit yang sudah muncul, itu juga termasuk salah satu bentuk memaafkan, kok. 

Layaknya jerawat, begitu pula dengan menyakiti orang lain. Menyakitkan. Menyebalkan. Beberapa meninggalkan bekas. Beberapa lenyap begitu saja. 


Tiba-tiba muncul jerawat di dahimu. Apa yang kau lakukan?
> Dioperasi?
> Dipencet?
> Diolesi obat jerawat?
> Dibiarkan saja?


Ternyata jerawat itu meninggalkan bekas. Apa yang kau lakukan?
> Mendekam di kamar agar tidak ada orang lain yang tahu?
> Tutupi dengan make up?
> Olesi dengan obat penghilang noda jerawat?
> Dibiarkan saja (lagi)?

Apapun itu kau harus hidup dengan noda itu. Coba lihat lagi wajahmu sekarang dengan sebuah noda kecil di dahi. It is not that bad, right? Yang perlu diperhatikan adalah bagaimana perasaanmu saat melihat kembali kejadian itu. Biasa sajakah? Masih sakitkah? Kalau masih sakit, itu artinya kau belum benar-benar memaafkan. 

Kau tahu, saat kita tidak memaafkan seseorang, sebenarnya itu adalah tanda bahwa kita membiarkan orang itu terus-menerus menyakiti kita. Coba lihat, bagaimana keadaan orang yang menyakitimu sekarang. Biasa sajakah? Dan dirimu masih terus saja kesakitan? Itu namanya tidak adil. Kalau dia bisa berjalan dan melanjutkan hidup dengan tenang, kamu pun harusnya demikian. Atau dia juga kesakitan? Well, dt sarankan, sembuhkan luka kalian bersama. Sakit itu ga enak. 

Jadi bagaimana agar kita bisa memaafkan orang lain? Singkatnya sih, be objective. Seperti kata pepatah lama, ’tidak ada asap kalau tidak ada api’. Saat seseorang menyakitimu, coba keluar dari situasi itu dan melihatnya sebagai orang lain. Coba cari tahu apakah ada tindakan ’aku’ yang memicu orang itu sampai bertindak menyakiti? Tanyakan mengapa sampai orang itu menyakiti ’aku’. Kalau memang tidak ada kesalahan dari ’aku’, coba pahami kondisi orang itu. Sedang banyak masalahkah? Sedang PMS-kah? Sedang butuh perhatiankah? Kalau memang iya, coba maklumi. Karena orang itu sedang berada dalam kondisi yang jauh lebih labil dari ’aku’.

Comments

Popular posts from this blog

[30HM] H6: Resensi Buku: Daughter of God

Judul Buku: Daughter of God (2000) Penulis: Lewis Perdue Penerbit: Dastan Books Penerjemah: Bima Sudiarto Sinopsis Belakang Buku: Pemusnahan benda-benda seni kuno bernilai tinggi. Penculikan serta pembunuhan demi pembunuhan. Misteri dan konspirasi yang telah berusia ribuan tahun terungkap. Fondasi keimanan masyarakat modern terancam. Zoe Ridgeway, seorang broker seni terkemuka, pergi ke Swiss bersama suaminya, Seth, untuk menemui seorang kolektor benda seni. Sang Kolektor yang menjelang ajal itu ingin Zoe agar mengurus benda-benda seninya. Namun, sebelum semua urusan selesai, sang kolektor meninggal dunia dengan cara misterius dan rumahnya yang penuh dengan benda seni bernilai tinggi itu habis terbakar. Tak hanya itu, Zoe diculik dan Seth harus menghadapi orang-orang yang mengancam jiwanya. Tampaknya ada sesuatu yang seharusnya mereka tidak ketahui.Sesuatu yang keberadaannya telah lama ditutup-tutupi dan dikubur dalam-dalam oleh pihak-pihak tertentu. Zoe dan Seth terjerat ja...

Balik Kucing

Apa itu balik kucing? Balik kucing  itu istilah orang jawa saat seseorang memutuskan untuk meninggalkan sesuatu tapi kemudian kembali lagi. So.. yeah, dt akhirnya memutuskan kembali ke blogger *ngakak nista*. Padahal di  blog lama  dt sudah dengan banternya say goodbye dan bilang pindah ke  tumblr  yang juga jarang banget dt isi. Sebenernya dt mulai jarang blogging itu karena keringnya ide nulis. Penyebabnya? Mari kita kembali menyalahkan skripshit dan revishit. Karena kurang bahan yang dibaca. Karena yang dibaca hanya materi tugas akhir. Karena setiap kata diperah hingga tetes terakhir untuk mengisi tiap lembar tugas akhir sampai ga ada yang tersisa untuk blog. Kalau emang ga ada ide nulis, terus ngapain pindah ke tumblr?  Nah, yang ini dt punya dua alasan yang ga penting banget. Satu, karena ternyata alamat site untuk akuisisi nama dt masih tersedia (di blogger sudah taken). Dua, karena dt jatuh cinta dengan satu theme di tumblr. Just it. Setelah ...

[30HM] H7 - Grup Curhat Buk-Ibuk: Masalah Ekonomi

Beberapa minggu yang lalu di lini masa ( timeline ) Facebook dt berseliweran beberapa cuplikan layar ( screenshot ) curhatan buk-ibuk di salah satu grup tertutup di Facebook. Berhubung penasaran, jadilah dt gabung. Sekadar pingin lihat sendiri apa iya kebanyakan entrinya seperti cuplikan layar yang dt baca. Sayangnya, ternyata beneran. Selain entri kenalan dan berbagi masakan hari ini, curhatan para buk-ibuk ini biasanya berkisar tentang permasalahan ketidakharmonisan rumah tangga (entah dengan suami atau mertua) yang kebanyakan bersumber pada permasalahan finansial. Menurut dt, ini adalah salah satu permasalahan pernikahan yang bisa diminimalisir. Semacam, kalau memang belum stabil secara finansial ya jangan menikah dulu. dt bukan bilang kudu kaya baru boleh nikah lo, ya. Stabil secara finansial. Punya pemasukan tetap yang cukup untuk biaya hidup dua kepala paling tidak, kalau bisa lebih ya alhamdulillah. dt tetiba inget pernah baca (tapi lupa baca di mana) kalau 70% percera...