Skip to main content

[30HM] H7 - Grup Curhat Buk-Ibuk: Masalah Ekonomi

Beberapa minggu yang lalu di lini masa (timeline) Facebook dt berseliweran beberapa cuplikan layar (screenshot) curhatan buk-ibuk di salah satu grup tertutup di Facebook. Berhubung penasaran, jadilah dt gabung. Sekadar pingin lihat sendiri apa iya kebanyakan entrinya seperti cuplikan layar yang dt baca.

Sayangnya, ternyata beneran.

Selain entri kenalan dan berbagi masakan hari ini, curhatan para buk-ibuk ini biasanya berkisar tentang permasalahan ketidakharmonisan rumah tangga (entah dengan suami atau mertua) yang kebanyakan bersumber pada permasalahan finansial. Menurut dt, ini adalah salah satu permasalahan pernikahan yang bisa diminimalisir. Semacam, kalau memang belum stabil secara finansial ya jangan menikah dulu. dt bukan bilang kudu kaya baru boleh nikah lo, ya. Stabil secara finansial. Punya pemasukan tetap yang cukup untuk biaya hidup dua kepala paling tidak, kalau bisa lebih ya alhamdulillah.

dt tetiba inget pernah baca (tapi lupa baca di mana) kalau 70% perceraian ini tipenya gugat cerai alias perceraian karena permintaan istri dengan alasan tertinggi adalah suami tidak mampu menafkahi secara finansial. Berkaca dari curhatan buk-ibuk di grup, kemungkinan besar perceraian-perceraian tadi tipe perceraian "ada uang abang disayang, ga ada uang abang ditendang". Ketidakmampuan finansial di sini biasanya karena suami tidak benar-benar niat kerja atau bahkan tidak bekerja.

Emang kalau perkara duit ini sensitif. Apalagi dengan budaya patriarki yang mengakar di Indonesia, kesuksesan laki-laki biasanya diukur dengan kemampuan mereka dalam menghasilkan uang. Ketidakmampuan menghasilkan pemasukan yang cukup kadang bisa melukai ego mereka sendiri. Memang ada sih beberapa pria yang justru jadi lebih semangat kerja demi memenuhi kebutuhan anak dan istri. Tapi juga ga sedikit yang kalau ditanyain duit belanja malah stres sendiri lalu muthung (ngambek) dan makin malas kerja. Lebih milih habisin pendapatan yang sudah sedikit itu buat ngerokok.

Itu kalau masalahnya cuma duit-duitan suami-istri belum lagi nanti kalau orang tua atau mertua ikutan minta jatah. Karena tahu sendiri, kan, budaya Indonesia kalau anak harus berbakti pada orang tua dan tidak sedikit orang tua yang justru menjadikan "bakti" anak-anak mereka sebagai rencana pensiun mereka. dt yang sebagai anak ini sih dengan senang hari ngramut (merawat) orang tua setelah mereka pensiun nanti karena alhamdulillah masih dikasih rejeki yang cukup sama Gusti Pengeran. Tapi kalau melihat kasus di grup, kalau duit untuk keluarga kecil baru saja ga cukup, bayangkan kalau harus menopang dua atau bahkan empat kepala lagi.

Jadi ikutan stres nih walau cuma berandai-andai.

---

Jumlah kata: 381 kata

Comments

Popular posts from this blog

Data Collecting Story (2)

dt tahu ini telat, tapi tetep aja pengen cerita. Jadi, malam sebelum malam pengambilan data, dt harus nyiapin segala sesuatunya. Dari print dan fotokopi lembar kuisioner dengan cara bikin repot mbak Mar *ngakak setan*, nyiapin timbangan berat badan (yang ini baru beli), nyiapin meteran buat ngukur tinggi badan (yang ini pake meteran baju), sampe nyiapin konsumsi buat responden besok. Nah, persiapan konsumsi ini yang pengen dt ceritain. Rencananya, setelah diwawancara, responden bakal dikasih konsumsi. Bukan nasi kotak mewah yang bisa bikin kenyang, sih. Cuma sekadar air mineral gelas plus dua buah roti yang semuanya dimasukkan ke dalam kotak kertas. Beda sama di Ngalam yang bisa pesen kue dalam kotak dalam jumah sedikit, di MudField ga bakal bisa kecuali kita pesen lebih dari 100 kotak. Padahal dt cuma butuh 70 kotak. Nah kalo pesen 100 siapa yang mau ngabisin sisa 30 kotaknya. Akhirnya beli kue sendiri, beli air mineral sendiri, dan beli kotaknya pun sendiri. Berhubung sudah t...

Routine

Wake up. Fight the traffic. Smile and serve for the next eight hours. Fight another traffic. Sleep. Receive monthly fee. Repeat.  That's basically my life right now.  Kebanyakan orang ngerasa ini normal, tapi dt ga ngerasa gitu. Rasanya ada yang salah dengan rutinitas tanpa tujuan. Kebanyakan orang bekerja karena mereka butuh uang. Well, dt juga butuh uang, tapi uang bukan motivasi utama dt kerja. Tantangan yang dt cari. dt ngerasa pekerjaan kita itu tempat aktualisasi diri. Which I don't feel right now. Mungkin itu yang bikin dt ngerasa ada yang salah dengan rutinitas dt.  Ada keinginan untuk keluar dari rutinitas yang ada sekarang, tapi selalu ada tembok yang bikin dt mikir ulang buat keluar. The Why Wall. Pertanyaan kenapa dt ada keinginan mundur dari rutinitas yang menurut banyak orang menguntungkan karena pekerjaan yang dt jalani sekarang adalah pekerjaan stabil, punya gengsi, mudah, dan berpenghasilan bagus. Dan jawaban kurang menantang kurang bisa...

It's about lying

You Are a Great Liar You can pretty much pull anything over on anyone. You are an expert liar, even if you don't lie very often. Are You a Good Liar? No comment deh... --" You Can Definitely Spot a Liar Maybe you have good instincts. Or maybe you just have a lot of experience with liars. Either way, it's pretty hard for someone to pull a fast one on you. You're like a human lie detector. Can You Spot a Liar? Well, so am I a great liar because i know the techniques? Or is it just in my blood? And the most important question is, am I really a great liar?