Skip to main content

[30HM] H9 - Fiksi: Bus Tujuan Malang

Belum ada setengah enam pagi aku sudah berdiri di depan salah satu warung rokok di Apolo, sebelum pom bensin. Rutinitas senin pagi membawaku kembali menjadi anak kos setelah menghabiskan akhir pekan di rumah. Celana jeans, kemeja panjang, jaket, dan sepatu olahraga adalah seragam wajibku tiap senin. Cukup nyaman dipakai di perjalanan, tapi juga masih pantas kalau dibawa masuk kelas. Maklum, sesampai di Malang aku langsung ke kampus karena ada kelas jam delapan.

Bus tujuan Malang datang. Bus biasa, tanpa AC, sudah hampir penuh. Melihat banyaknya orang yang menunggu bersamaku sepertinya aku tidak akan dapat tempat duduk. Setengah berlari aku meloncat masuk ke dalam bus. Terdesak masuk karena dorongan orang-orang yang ingin naik bus. Benar saja, kursi bus dengan tatanan tiga-dua itu sudah penuh semua. Aku terpaksa berdiri sambil berpegangan di salah satu sandaran bangku. Ransel sudah kugendong depan untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan.

Bus bergerak perlahan. Penat dengan muatan. Sepertinya pagi ini benar-benar sibuk. Baru kali ini aku naik bus sesesak ini sampai nyaris terhimpit. Tapi ya sudahlah, namanya juga perjuangannya mahasiswa. Kalau ga seperti ini, mana ada ceritanya.

Masuk area Pandaan, pemandangan sawah diselingi pabrik. Atau pabrik yang diselingi sawah? Rasanya setiap hampir setiap bulan ada saja bidang sawah yang diratakan. Entah mau jadi apa. Mungkin pabrik? Ruko? atau malah Perumahan?

Pak kernet berjuang membelah manusia untuk menagih pembayaran. Kuserahkan beberapa lembar rupiah yang sudah kusiapkan. Pas, tidak perlu kembalian. Lalu aku kembali ke pemandangan sawah dan pabrik. Pikiran melanturku terpecah saat aku merasa ada yang menyentuh bokongku. Aku terdiam. Tidak yakin bagaimana harus bereaksi.

Lagi. Aku tolah-toleh. Tidak ada gerak-gerik yang mencurigakan. Mungkin tidak sengaja, pikirku. Toh, kondisi berdesakan begini.

Dan lagi. Tapi kali ini bukan hanya sentuhan lagi. Lebih mirip meraba sambil ditekan. Jantungku berdegup kencang. Aku sendiri bingung harus bagaimana.

Kuturunkan tangan yang sedari tadi memeluk ransel yang kugendong depan. Kupakai tanganku untuk menutupi bokongku sendiri. Kalau orang itu berani pegang-pegang lagi bisa kutangkap tangannya lalu kuteriaki. Begitu rencanaku.

Tapi tidak lama bus masuk terminal Pandaan, banyak penumpang turun dan aku akhirnya bisa dapat kursi. Penumpang baru membanjiri masuk. Aku bernafas sedikit lega, walau sesak aku masih bisa duduk, dan menghindari rabaan tadi.

Aku membenamkan wajah ke ransel. Mencoba menenangkan diri dengan mengatur nafas. Kupeluk ranselku. Debar jantungku masih agak keras efek kejadian barusan. Setelah beberapa saat kuangkat wajahku. Aku baru sadar kalau aku duduk di sebelah ibu-ibu yang tertidur. Di ujung lain mataku aku melihatnya.

Mas-mas tanggung dengan baju salah satu foto paslon pilkada dengan topi hitam meraba bokong mbak-mbak berjilbab lebar. Si mbak kelihatan bingung harus berbuat apa. Sementara muka si mas santai melihat ke arah lain, tapi tangannya gerilya. Aku jadi deg-degan dan misuh dalam hati.

Nekat, kujangkau dan kutepis tangan si mas saat meraba si mbak lagi.

"Heh, Mas, tangannya, ya!" Beberapa orang menoleh ke arah kami.

"Onok opo, mbak?" Kebetulan pak kernet tidak jauh di belakangku.
("Ada apa, mbak?")

"Iki lo, Pak. Mas e grayah-grayah."
("Ini, Pak. Masnya meraba-raba.")

"Leh, arek iki maneh. Njaluk dipecel ta?"
("Loh, anak ini lagi. Minta dihajar, ya?")

Pak kernet mendorong dan memaksa turun mas-mas tanggung tadi. Kulihat mbak berjilbab lebar itu tersenyum lega dan mengangguk pelan ke arahku. Bus berjalan lagi. Kudengar penumpang berbisik-bisik penasaran dengan kejadian barusan. Ibu-ibu yang duduk di sebelahku masih pulas.

---

Jumlah kata: 526 kata

Comments

Popular posts from this blog

[30HM] H6: Resensi Buku: Daughter of God

Judul Buku: Daughter of God (2000) Penulis: Lewis Perdue Penerbit: Dastan Books Penerjemah: Bima Sudiarto Sinopsis Belakang Buku: Pemusnahan benda-benda seni kuno bernilai tinggi. Penculikan serta pembunuhan demi pembunuhan. Misteri dan konspirasi yang telah berusia ribuan tahun terungkap. Fondasi keimanan masyarakat modern terancam. Zoe Ridgeway, seorang broker seni terkemuka, pergi ke Swiss bersama suaminya, Seth, untuk menemui seorang kolektor benda seni. Sang Kolektor yang menjelang ajal itu ingin Zoe agar mengurus benda-benda seninya. Namun, sebelum semua urusan selesai, sang kolektor meninggal dunia dengan cara misterius dan rumahnya yang penuh dengan benda seni bernilai tinggi itu habis terbakar. Tak hanya itu, Zoe diculik dan Seth harus menghadapi orang-orang yang mengancam jiwanya. Tampaknya ada sesuatu yang seharusnya mereka tidak ketahui.Sesuatu yang keberadaannya telah lama ditutup-tutupi dan dikubur dalam-dalam oleh pihak-pihak tertentu. Zoe dan Seth terjerat ja...

Balik Kucing

Apa itu balik kucing? Balik kucing  itu istilah orang jawa saat seseorang memutuskan untuk meninggalkan sesuatu tapi kemudian kembali lagi. So.. yeah, dt akhirnya memutuskan kembali ke blogger *ngakak nista*. Padahal di  blog lama  dt sudah dengan banternya say goodbye dan bilang pindah ke  tumblr  yang juga jarang banget dt isi. Sebenernya dt mulai jarang blogging itu karena keringnya ide nulis. Penyebabnya? Mari kita kembali menyalahkan skripshit dan revishit. Karena kurang bahan yang dibaca. Karena yang dibaca hanya materi tugas akhir. Karena setiap kata diperah hingga tetes terakhir untuk mengisi tiap lembar tugas akhir sampai ga ada yang tersisa untuk blog. Kalau emang ga ada ide nulis, terus ngapain pindah ke tumblr?  Nah, yang ini dt punya dua alasan yang ga penting banget. Satu, karena ternyata alamat site untuk akuisisi nama dt masih tersedia (di blogger sudah taken). Dua, karena dt jatuh cinta dengan satu theme di tumblr. Just it. Setelah ...

[30HM] H7 - Grup Curhat Buk-Ibuk: Masalah Ekonomi

Beberapa minggu yang lalu di lini masa ( timeline ) Facebook dt berseliweran beberapa cuplikan layar ( screenshot ) curhatan buk-ibuk di salah satu grup tertutup di Facebook. Berhubung penasaran, jadilah dt gabung. Sekadar pingin lihat sendiri apa iya kebanyakan entrinya seperti cuplikan layar yang dt baca. Sayangnya, ternyata beneran. Selain entri kenalan dan berbagi masakan hari ini, curhatan para buk-ibuk ini biasanya berkisar tentang permasalahan ketidakharmonisan rumah tangga (entah dengan suami atau mertua) yang kebanyakan bersumber pada permasalahan finansial. Menurut dt, ini adalah salah satu permasalahan pernikahan yang bisa diminimalisir. Semacam, kalau memang belum stabil secara finansial ya jangan menikah dulu. dt bukan bilang kudu kaya baru boleh nikah lo, ya. Stabil secara finansial. Punya pemasukan tetap yang cukup untuk biaya hidup dua kepala paling tidak, kalau bisa lebih ya alhamdulillah. dt tetiba inget pernah baca (tapi lupa baca di mana) kalau 70% percera...