Skip to main content

Posts

Tentang Toko Jual Beli Online

Semua pasti sudah pernah dengar dan coba lihat-lihat di toko atau forum jual beli online, dong. Mulai dari tokobagus (yang sekarang jadi OLX), berniaga, bukalapak, atau FJB punya kaskus. Menurut dt forum macam ini beneran berguna buat orang yang tahu apa yang dicari dan males kalau harus keliling untuk cari barang yang dia butuhin. Tinggal duduk, depan komputer, cari, nemu yang sesuai, langsung deh transaksi. Nah, pengalaman pertama dt sebagai yang jualan agak ga umum nih. Kalau jadi pembeli dt cenderung jadi pembeli efisien. Tanya, tawar, cocok, ketemuan, bayar, angkut barangnya. Jadi dt juga berharap dapat pembeli yang serupa. Setelah tawar-menawar lewat SMS berantai, akhirnya kami cocok harga dan ketemuan di salah satu gerai makanan cepat saji. dt sengaja dateng duluan biar bisa menikmati wifi gratisan dan berasumsi kalo pembeli dt cukup nemuin dt n ga merasa berkeharusan untuk beli sesuatu. Sayangnya pembeli dt muncul di depan dt berikut nampan lengkap sama paket nomor tiga pl...

Gimana Sekarang?

Banyak pertanyaan sering dt terima setelah berhenti kerja. Banyak dan lama-lama rasanya mengganggu. "Kenapa berhenti? Kan sudah enak di BNI" Kerjaan memang sawang-sinawang sih. Banyak yang mimpi bisa kerja di bank. Sedangkan dt sendiri ga pernah berharap-harap untuk bisa kerja di bank. Yang ada di bayangan dt tentang kerja justru something fulfilling . Yang memberikan manfaat lain selain dapat uang. Jujur aja dt justru merasa ga berguna kalau hanya kerja untuk duit. "Jadi sekarang kerja di mana?" "Sekarang sibuk apa?" Sekarang dt jadi penerjemah. Demi duit, yeah. Paradoks, ne. Tapi paling tidak sebagai penerjemah dt merasa bisa membantu orang lain untuk dapat pemahaman. Dan saat kadang jadi penulis artikel dt juga bisa merasa membantu orang lain dengan berbagi info yang kebetulan sedang mereka butuhkan. Sayangnya ortu ga sepaham. Mereka masih menilai sesuatu dengan nominal. Well, sebenarnya kalo secara nominal sih ga beda jauh. Saat kerja di bank,...

Sudah Dua Bulan

Yup. Sudah dua bulan sejak dt akhirnya memutuskan berhenti dari kerjaan yang menurut banyak orang sangat bagus, stabil, dan menjanjikan. Memang sih kerja di bank BUMN jelas bakal terima gaji yang lumayan, terjamin ga mendadak diputus hubungan kerja, plus kerjaannya ga berat atau berisiko tinggi. Tapi memang jiwa dt ga di sana. Sejak masuk aja dt jadi gampang sakit. Belum sebulan kerja, dan waktu itu masih jaman di kelas training, dt sempat opname sekitar seminggu di rumah sakit. Padahal sebelumnya dt termasuk orang yang ga gampang sakit. Bahkan dt ingat opname sebelum ini waktu dt masih kelas enam SD. Lepas dari pekerja korporasi dt mau usaha sendiri walau masih belum punya bayangan jelas usaha apa. Selama ini yang ada di bayangan dt sih cuma jadi penerjemah dan penulis lepas aja. Sayangnya kerja cari proyekan macam ini jelas tergantung ada atau tidaknya proyek, belum lagi memang harus berebut dengan freelancer lain. Yang dt yakin jumlahnya banyak, lebih ahli, lebih berpengalam...

Routine

Wake up. Fight the traffic. Smile and serve for the next eight hours. Fight another traffic. Sleep. Receive monthly fee. Repeat.  That's basically my life right now.  Kebanyakan orang ngerasa ini normal, tapi dt ga ngerasa gitu. Rasanya ada yang salah dengan rutinitas tanpa tujuan. Kebanyakan orang bekerja karena mereka butuh uang. Well, dt juga butuh uang, tapi uang bukan motivasi utama dt kerja. Tantangan yang dt cari. dt ngerasa pekerjaan kita itu tempat aktualisasi diri. Which I don't feel right now. Mungkin itu yang bikin dt ngerasa ada yang salah dengan rutinitas dt.  Ada keinginan untuk keluar dari rutinitas yang ada sekarang, tapi selalu ada tembok yang bikin dt mikir ulang buat keluar. The Why Wall. Pertanyaan kenapa dt ada keinginan mundur dari rutinitas yang menurut banyak orang menguntungkan karena pekerjaan yang dt jalani sekarang adalah pekerjaan stabil, punya gengsi, mudah, dan berpenghasilan bagus. Dan jawaban kurang menantang kurang bisa...

Weekend Trip: Sempu (featuring Dengue)

family road trip! Beberapa minggu lalu mama bilang kangen pingin jalan-jalan bareng sama seluruh keluarga. Waktu eyang masih hidup, biasanya eyang yang rencanain jalan-jalan keluarga. Semua tinggal duduk manis dan berangkat. Tujuan, kendaraan, ransum, semua sudah disiapin eyang. Sekarang giliran mama yang nyiapin semuanya. Mama sampe beli dua puluhan kaos kembar buat kami. Kali ini kami nyewa mini bus karena ada enam keluarga yang ikut jalan-jalan kali ini. Tujuannya, Sempu. Gegara adek ke sana beberapa bulan lalu dan mama kepingin juga. ngeroyok tukang kacang Sabtu pagi kita berangkat dan sampai di Sendang Biru lewat adzan dhuhur. Nyebrang ke pulau Sempu setelah selesai makan kacang rebus, bakar-bakar ikan barakuda dan ikan hiu, foto-foto sebentar, baru balik ke Sendang Biru. Perjalanan lanjut ke Malang. Rencananya sih malam itu mau main sebentar ke Batu Night Spectacular, tapi berhubung macetnya amit-amit kita langsung ke Wonderland Water Resort dan numpang tidur di sana. B...

Vacation: Hongkong-Macau (2)

Hari 2 (20130125) City Tour Day! Untuk hari ini kami ikutan tour biar ga bingung mau ke mana dan ada tiga tempat yang kami kunjungi hari ini. Jumbo Kingdom Restaurant - Avenue of Stars - Bruce Lee was here! Semacam Hollywood Walk of Fame tapi jelas isinya nama, tanda tangan, n cap tangan artis Hongkong dan China daratan. Ceritanya (kalo ga salah), ada orang yang kaya banget dan suka banget dengan film, dan Avenue of Stars ini bentuk penghargaannya pada bintang-bintang film Hongkong. Sekarang sih sudah diserahkan ke departemen pariwisata untuk pengelolaan dan perawatannya dengan satu syarat: fasilitas terbuka gratis untuk umum. Jadi negara ga repot ngebuat atau ngebangun wisata baru, tinggal ngerawat aja salah satu magnet pariwisata yang pastinya ngedatengin devisa. Btw, ukuran tangan dt sama kek ukuran tangan Jackie Chan lo.. kecil.. - Victoria Peak - view from Victoria Peak Victoria Peak itu gunung paling tinggi di Hongkong. Dulunya kawasan paling elit di Hongkon...

Vacation: Hongkong-Macau (1)

Hari 1 (20130124) Kami (dt, mama, tante yuyuk, dan tante sun) ambil penerbangan langsung Surabaya-Hongkong punya Cathay Pasific, dan setelah empat jam penerbangan, mendaratlah di Hongkong. Pemandu kami sudah anteng dengan papan nama siap menjemput. Pak Daniel namanya. Orang Indonesia dan tinggal di Indonesia sampai usia 15th, lalu terpaksa hijrah ke Hongkong karena isu SARA jaman orba dulu. Sekarang sih orangnya sudah lima puluh tahunan, tapi masih enerjik banget. Semangat 45 kalo cerita. nemu BNI di depan KJRI! >_<)/ Perjalanan dari bandara ke hotel ngasih kesan ke dt kalo Hongkong itu kota yang sumpek, padat, berisi, tapi masih menyenangkan buat dijelajahi. Bisa diulanglah, kalo punya duit lebih buat jalan-jalan ke hongkong. Yang bikin berkesan sumpek adalah satu-satunya hal yang bisa tumbuh tinggi di Hongkong itu cuma beton. Gedung, apartemen, jalan layang, jembatan. Padahal penghijauannya oke banget, tapi memang pohonnya kalah tinggi, secara Hongkong memang ga punya l...