Skip to main content

Night with Ayu (2)

Well, ga cuma night sih, soalnya sampe besok paginya dt juga abisin bareng ayu yang emang lagi memasuki masa idle sampai waktu keberangkatan penerbangannya nanti. Jadi, kami berdua berencana untuk menghabiskan waktu yang lumayan banyak itu dengan menikmati hidup hedon walau sejenak. Dan tenang aja, bukan hidup hedon a la Rere yang kudu bersentuhan dengan mall, topman, manzone, dan keluarganya (hyah, Rere kena lagi *ngakak*). Hedon kita lebih ke menikmati hidup dan memanjakan lidah, mata, dan telinga kok.

Sore, sesaat sebelum maghrib, dt udah nyampe di hotel Ayu dan langsung jadi slonong girl ke kamar Ayu karena lagi males berbasa-basi sama mas-mas resepsionis. Sore itu dt pake jeans, cami putih, dan kemeja ijo army. And clearly freed from dress, ribbon, and doll! *jitak Sha* Tampil feminin itu emang manis dan menyenangkan, apalagi dt emang doyan eksperimen sama alat make up. Tapi jelas pake baju casual lebih nyaman dan ga ribet.

Sekitar jam setengah tujuh, kita keluar dari hotel dan nyegat angkot dari depan hotel untuk menuju jujugan pertama. Yeah, pertama, karena malam itu kita berencana ngeluyur ke tiga tempat dan memang berencana untuk menghabiskan malam minggu sampe ketemu minggu dini hari kok. Mumpung wiken gitu. Oia, jujugan pertama. Toko Oen. Toko tua yang udah berdiri sejak 1930 jelas sebuah tempat yang kudu diampiri kalo ke Ngalam dong. Penuh dengan sejarah Ngalam gitu (padahal dt juga baru pertama ini ke sana *grin*).

Di toko Oen kita pesen keik dan es krim. Yeap, menu andalan toko Oen itu emang es krimnya. dt pesen cheese cake dan peach melba ice cream. Ayu pesen black forrest dan es-krim-yang-entah-apa-judulnya-karena-dt-lupa, yang isinya ada empat rasa, vanila, cokelat, kopi, dan mocca. Enak deh es krimnya. Yeah, secara memang menu andalannya toko Oen adalah es krim tempo dulunya. Untuk pilihan menu di sana juga beragam dan ga cuma melulu es krim, keik, dan camilan. Ada juga makanan Indonesia, chinese food, eastern course juga ada. Belum lagi tempatnya memang cozy buat ngumpul dan ngobrol-ngobrol, jadi ga rugilah kalo mau nongkrong di toko Oen.

Next stop, Gramedia. Hahaha. Yeah, toko buku dan saat itu sudah hampir jam sembilan. Ga terasa memang karena keasikan ngobrol di toko Oen. Ngobrol apa? Wah, itu mah ofderekord kalo dt nekat ngebeberin, bisa-bisa digorok pake pinggiran kertas yang setajam silet sama Ayu *tongue*. Oke, kembali ke Gramedia, berhubung kita memang doyan buku dan keknya Ayu belum puas sama Gramedia Matos di hari sebelumnya, di sinilah kami. Menelusuri rak-rak bacaan fiksi entah karya anak negeri atau terjemahan.

Ayu tertarik sama serial petualangan Percy Jackson and the Olympians karya Rick Riordan sebenarnya, tapi berhubung setelah kita obrak-abrik itu rak dan katalog yang ada, seri pertamanya yang berjudul the Lightning Thief sudah habis stocknya membuat Ayu urung membeli keempat serial lanjutannya. Yaiyalah. Mana enak baca buku bersambung tapi loncat-loncat. Mulailah dari awal dan selesaikan di akhir. Ya to?

Sementara Ayu masih lihat-lihat buku lain untuk mengobati sakit hati karena the Lightning Thief-nya habis, mata dt tertumbuk sama sebuah buku biru tebal yang berjajar di bawah jajaran buku Lost Symbol-nya Dan Brown. Judulnya yang biru besar-besar berbunyi Atlantis, ditemani sebuah peta Indonesia. Yang terbersit saat itu adalah, "Wah, ada cerita fiksi yang memakai Indonesia sebagai sentralnya! Keren! Mana dihubungkan sama the Lost Atlantis pula!" Langsung deh dt saut bukunya buat ngebaca sinopsis dan komentar-komentarnya. Tapi begitu ngeliat siapa penulisnya, dalam kepala dt langsung bereaksi, "SUMPE LO?" soalnya penulisnya adalah seorang profesor Brazil yang memang kudunya menulis hal faktual bukannya fiksi. Dan itu berarti isi buku yang dt pegang bukan fiksi, tapi faktual! Well, at least teori beliaulah, yang menyatakan bahwa bahwa Indonesia adalah benua Atlantis yang tersohor itu. dt yang berasa kena serangan jantung karena ga percaya ada orang yang mengajukan teori bahwa Indonesia adalah bekas pusat peradaban tinggi yang kemudian hilang karena banjir besar itu, langsung mengembalikan buku tadi ke raknya dengan damai. Belum berkeinginan untuk membeli dan membaca teori yang dipaparkan sang profesor.

Akhirnya kita keluar dari Gramedia dengan tangan hampa karena memang ga nemu buku yang sesuai keinginan dan kita langsung menuju jujugan terakhir kita. De'Liv! Nah, de' Liv ini cafe sebelahnya perpustakaan kota Ngalam dan ada yang bilang kalo de'Liv adalah cafe paling keren seNgalam Raya, jadi ga ada salahnya dong kalo coba didatangi. Naik apa ke sana? Still. Ngangkot. Jadi kita awalnya naik AG terus kudu ganti AL atau ADL di perempatan BCA. Sayangnya jam sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh lewat yang menandakan semakin tipis saja stok angkot yang bakal lewat. Dan bener aja ga ada angkot yang lewat akhirnya kita ngelanjutin perjalanan ke de'Liv sambil ngesot. Engga ding, ga ngesot kok. Kita masih kuat jalan santai sambil menikmati sejuknya Ngalam di malam hari.

Di de'Liv kita makan lagi bo. Secara energi yang didapet dari keik dan es krim sudah habis buat ngest, eh, jalan dari perempatan BCA sampe de'Liv gitu *alesan*. So, Ayu pesen ayam kremes pake iced lemon tea, dan dt pesen salmon steak pake green tea. Sambil menikmati tayangan ulang konsernya Pink kita lanjutin ngobrol ngalor-ngidul. Nah, sekitar jam sepuluh, baru muncul itu live music-nya (dan seperti biasa, dt lupa nama band-nya, hohoho...). Live music yang enak didenger, makanan yang enak dan murah, plus suasanan yang cozy, jelas ga heran kalo ada yang bilang kalo de'Liv itu cafe paling keren seNgalam. Jadi, kita berdua nongkrong sambil ngobrol-ngobrol sampe sekitar tengah malem sebelum akhirnya balik ke hotel.

Comments

Popular posts from this blog

[30HM] H6: Resensi Buku: Daughter of God

Judul Buku: Daughter of God (2000) Penulis: Lewis Perdue Penerbit: Dastan Books Penerjemah: Bima Sudiarto Sinopsis Belakang Buku: Pemusnahan benda-benda seni kuno bernilai tinggi. Penculikan serta pembunuhan demi pembunuhan. Misteri dan konspirasi yang telah berusia ribuan tahun terungkap. Fondasi keimanan masyarakat modern terancam. Zoe Ridgeway, seorang broker seni terkemuka, pergi ke Swiss bersama suaminya, Seth, untuk menemui seorang kolektor benda seni. Sang Kolektor yang menjelang ajal itu ingin Zoe agar mengurus benda-benda seninya. Namun, sebelum semua urusan selesai, sang kolektor meninggal dunia dengan cara misterius dan rumahnya yang penuh dengan benda seni bernilai tinggi itu habis terbakar. Tak hanya itu, Zoe diculik dan Seth harus menghadapi orang-orang yang mengancam jiwanya. Tampaknya ada sesuatu yang seharusnya mereka tidak ketahui.Sesuatu yang keberadaannya telah lama ditutup-tutupi dan dikubur dalam-dalam oleh pihak-pihak tertentu. Zoe dan Seth terjerat ja...

Balik Kucing

Apa itu balik kucing? Balik kucing  itu istilah orang jawa saat seseorang memutuskan untuk meninggalkan sesuatu tapi kemudian kembali lagi. So.. yeah, dt akhirnya memutuskan kembali ke blogger *ngakak nista*. Padahal di  blog lama  dt sudah dengan banternya say goodbye dan bilang pindah ke  tumblr  yang juga jarang banget dt isi. Sebenernya dt mulai jarang blogging itu karena keringnya ide nulis. Penyebabnya? Mari kita kembali menyalahkan skripshit dan revishit. Karena kurang bahan yang dibaca. Karena yang dibaca hanya materi tugas akhir. Karena setiap kata diperah hingga tetes terakhir untuk mengisi tiap lembar tugas akhir sampai ga ada yang tersisa untuk blog. Kalau emang ga ada ide nulis, terus ngapain pindah ke tumblr?  Nah, yang ini dt punya dua alasan yang ga penting banget. Satu, karena ternyata alamat site untuk akuisisi nama dt masih tersedia (di blogger sudah taken). Dua, karena dt jatuh cinta dengan satu theme di tumblr. Just it. Setelah ...

[30HM] H7 - Grup Curhat Buk-Ibuk: Masalah Ekonomi

Beberapa minggu yang lalu di lini masa ( timeline ) Facebook dt berseliweran beberapa cuplikan layar ( screenshot ) curhatan buk-ibuk di salah satu grup tertutup di Facebook. Berhubung penasaran, jadilah dt gabung. Sekadar pingin lihat sendiri apa iya kebanyakan entrinya seperti cuplikan layar yang dt baca. Sayangnya, ternyata beneran. Selain entri kenalan dan berbagi masakan hari ini, curhatan para buk-ibuk ini biasanya berkisar tentang permasalahan ketidakharmonisan rumah tangga (entah dengan suami atau mertua) yang kebanyakan bersumber pada permasalahan finansial. Menurut dt, ini adalah salah satu permasalahan pernikahan yang bisa diminimalisir. Semacam, kalau memang belum stabil secara finansial ya jangan menikah dulu. dt bukan bilang kudu kaya baru boleh nikah lo, ya. Stabil secara finansial. Punya pemasukan tetap yang cukup untuk biaya hidup dua kepala paling tidak, kalau bisa lebih ya alhamdulillah. dt tetiba inget pernah baca (tapi lupa baca di mana) kalau 70% percera...