Skip to main content

dt dan Dia

Hari ini dt ngobrol banyak sama Dia.

Dia itu temen dt. And her name is Dia. D. I. A. Okay..

Banyak yang bilang kalo dt sama Dia itu mirip. Ntar dt tunjukin potonya deh. dt ambil major dietary dan Dia ambil major nursery. Udah lama banget rasanya ga ketemu karena masing-masing punya jadwal dan kesibukan sendiri. Dan kebetulan setelah dt ujian tadi, dt ngedon di lantai 4. Padahal biasanya dt ngedekem di lobi gedung FK. Dan kebetulan juga Dia jalan-jalan ke lantai 4. dt sapa aja. Dan dari sana semua obrolan berawal.

Well, bukan obrolannya yang mau dt tulis, tapi tentang keheranan dt bagaimana orang berbeda bisa jadi begitu sama dan bagaimana semua yang serupa itu berdiri dari dasar yang berbeda.

Kalo Dia introvert, dt ekstrovert. Dia memikirkan bagaimana pendapat orang lain tentang dirinya, dt sebodo teuing. Dia memendam hampir semua masalahnya, dt malah ngumbar aib.

Yah, gitu deh.. Tapi herannya kita juga punya banyak kesamaan. Dari rambut yang sama-sama kriwil. Tampang yang katanya sama. Cara belajar yang ternyata sama (sama-sama SKS). Cara ngerjakan ujian yang sama. Punya masalah yang sama. Bahkan punya kebiasaan yang sama.

Kalau lagi ujian, dt punya kebiasaan umek sendiri. Bisa dibilang dt adalah siswa paling berisik kalau ujian. Mulai dari ngetuk-ngetukin sepatu atau pensil, gigitin pensil, toleh kanan kiri (bukan buat nyontek lo ya), berdengung, bersenandung, sampai nyanyi sendiri. Berisik banget deh. Tapi itu cara dt dan Dia bisa konsentrasi dan memanggil memori yang sudah diisi beberapa jam sebelumnya.

Masalah yang sama. IP. dt tau kalau IP bukan segalanya, tapi semuanya butuh IP. Dan perlu diingat kalau dt adalah anggota PMDK (Persatuan Mahasiswa Dua Koma) padahal dt pengen kerja jadi dosen yang persyaratan IP minimalnya tiga koma. Tipis bo! Tipis! Padahal dt ngerti sama semua kuliah yang dt ikuti. dt bisa jelasin ke temen-temen lain kalau mereka ga ngerti. Tapi kalau sudah ujian, beuh! Nilai temen yang dt ajarin jadi lebih tinggi dari dt. Percaya apa engga dt lebih suka ujian esai daripada pilihan ganda. Karena dari sana dt bisa jelasin panjang kali lebar kali tinggi tentang semua konsep yang dt tahu. Atau mau yang lebih dt suka lagi? Ujian lisan sekalian! *sighed*

Dan tentang kebiasaan yang sama itu. Well, kami berdua merasa bahwa sekolah adalah institusi penting. Tempat di mana kami digodog menjadi yang terbaik dan tampil terbaik tentu. Makanya kalau ke kampus, dandan adalah sebuah kewajiban. Tampil cantik dan rapi jelas hal yang menyenangkan diri dan orang lain yang melihat. Tapi jangan begitu berharap kalau kalian bakal ngelihat dt dan Dia serapi di kampus kalau kalian nemui kami di rumah. Bagi kami rumah adalah tempat bebas di mana kami tidak perlu tampil cantik dan rapi setiap waktu.

Bahkan kami punya pendapat yang serupa tentang cowok walaupun punya tipe yang berbeda. Menurut kami, yang namanya cowok ya kudu laki. Jangan sampe deh cowok itu jadi lebih 'cantik' dari cewek. Well, bukannya kami ga pula cowok bertampang cantik, kami hanya sebel dengan cowok berperilaku 'cantik'. Tampil rapi, bersih, dan memperhatikan penampilan jelas bagus. Tapi jangan sampe deh kalau cowok jadi lebih suka facial, jadi lebih rajin creambath, jadi lebih sering menipedi dari cewek. Emansipasi sih emansipasi, tapi ga gitu juga kali...

Comments

Popular posts from this blog

Data Collecting Story (2)

dt tahu ini telat, tapi tetep aja pengen cerita. Jadi, malam sebelum malam pengambilan data, dt harus nyiapin segala sesuatunya. Dari print dan fotokopi lembar kuisioner dengan cara bikin repot mbak Mar *ngakak setan*, nyiapin timbangan berat badan (yang ini baru beli), nyiapin meteran buat ngukur tinggi badan (yang ini pake meteran baju), sampe nyiapin konsumsi buat responden besok. Nah, persiapan konsumsi ini yang pengen dt ceritain. Rencananya, setelah diwawancara, responden bakal dikasih konsumsi. Bukan nasi kotak mewah yang bisa bikin kenyang, sih. Cuma sekadar air mineral gelas plus dua buah roti yang semuanya dimasukkan ke dalam kotak kertas. Beda sama di Ngalam yang bisa pesen kue dalam kotak dalam jumah sedikit, di MudField ga bakal bisa kecuali kita pesen lebih dari 100 kotak. Padahal dt cuma butuh 70 kotak. Nah kalo pesen 100 siapa yang mau ngabisin sisa 30 kotaknya. Akhirnya beli kue sendiri, beli air mineral sendiri, dan beli kotaknya pun sendiri. Berhubung sudah t...

Routine

Wake up. Fight the traffic. Smile and serve for the next eight hours. Fight another traffic. Sleep. Receive monthly fee. Repeat.  That's basically my life right now.  Kebanyakan orang ngerasa ini normal, tapi dt ga ngerasa gitu. Rasanya ada yang salah dengan rutinitas tanpa tujuan. Kebanyakan orang bekerja karena mereka butuh uang. Well, dt juga butuh uang, tapi uang bukan motivasi utama dt kerja. Tantangan yang dt cari. dt ngerasa pekerjaan kita itu tempat aktualisasi diri. Which I don't feel right now. Mungkin itu yang bikin dt ngerasa ada yang salah dengan rutinitas dt.  Ada keinginan untuk keluar dari rutinitas yang ada sekarang, tapi selalu ada tembok yang bikin dt mikir ulang buat keluar. The Why Wall. Pertanyaan kenapa dt ada keinginan mundur dari rutinitas yang menurut banyak orang menguntungkan karena pekerjaan yang dt jalani sekarang adalah pekerjaan stabil, punya gengsi, mudah, dan berpenghasilan bagus. Dan jawaban kurang menantang kurang bisa...

It's about lying

You Are a Great Liar You can pretty much pull anything over on anyone. You are an expert liar, even if you don't lie very often. Are You a Good Liar? No comment deh... --" You Can Definitely Spot a Liar Maybe you have good instincts. Or maybe you just have a lot of experience with liars. Either way, it's pretty hard for someone to pull a fast one on you. You're like a human lie detector. Can You Spot a Liar? Well, so am I a great liar because i know the techniques? Or is it just in my blood? And the most important question is, am I really a great liar?