Skip to main content

X9 Tales (day 15)

Hujan di luar masih deras. Bahkan jalan turunan depan rumah nyaris nampak seperti sungai kecil karena terlalu banyaknya jumlah air yang ditumpahkan hujan. Langit di luar berwarna kelabu rata. Nampak seperti tak berawan. Padahal seluruh langit di selimuti mendung merata. Intensitas hujan dari tadi tidak berubah. Begitu stabil sampai-sampai dt merasa kalau hujan kali ini tak akan berakhir.

Anak-anak sudah asik bergumul dengan selimut masing-masing. Sedang dt hanya bersenjata jaket angkatan untuk melawan dingin gara-gara dengan semena-mena selimut dt dijajah mamih Mentul. Oia, dt belum cerita ya kalau dt punya tiga emak di sini. Mbak Silfi, sang ibu. Ilmi, sang ibu tiri. Mentul, mamih angkat dt. Sekarang Mentul malah ngejajah handbody dt padahal dia seharian belum mandi. Diiringi lagu-lagu hujan yang slow dan membuai, kami bahas kebutuhan dana untuk acara besar hari Minggu nanti. Dan sesekali melenceng untuk ketawa-ketiwi tentang Bang Ipin.

Bang Ipin itu ketua karang taruna dusun Kuso. Lebih tinggi sedikit dari dt, kulitnya putih, tampangnya manis. Yaiyalah manis, secara temen-temennya yang lain pada sepet-sepet. Kalau mau dianalogiin, layaknya gula jawa di antara micin. Tapi Bang Ipin itu berondong. Satu angkatan di bawah kita-kita. Lumayan banyak lo yang kecantol sama Bang Ipin. Mbak Silfi, Mentul, Dina, Popo, dan masih ada sederet temen yang penasaran soalnya belum pernah ketemu Bang Ipin.

Sudah dua hari ini bahan bercandaan dan gojlokan terus-terusan tentang Bang Ipin, Mentul, Mbak Silfi, dan bang pilot (gebetan barunya Mbak Silfi).

Ah, hujan di luar akhirnya mulai reda juga. Walau sepertinya semua masih asik menyibukkan diri dengan menghangatkan tubuh dengan menyesapi teh atau susu hangat yang baru diseduh.

Comments

Popular posts from this blog

[30HM] H6: Resensi Buku: Daughter of God

Judul Buku: Daughter of God (2000) Penulis: Lewis Perdue Penerbit: Dastan Books Penerjemah: Bima Sudiarto Sinopsis Belakang Buku: Pemusnahan benda-benda seni kuno bernilai tinggi. Penculikan serta pembunuhan demi pembunuhan. Misteri dan konspirasi yang telah berusia ribuan tahun terungkap. Fondasi keimanan masyarakat modern terancam. Zoe Ridgeway, seorang broker seni terkemuka, pergi ke Swiss bersama suaminya, Seth, untuk menemui seorang kolektor benda seni. Sang Kolektor yang menjelang ajal itu ingin Zoe agar mengurus benda-benda seninya. Namun, sebelum semua urusan selesai, sang kolektor meninggal dunia dengan cara misterius dan rumahnya yang penuh dengan benda seni bernilai tinggi itu habis terbakar. Tak hanya itu, Zoe diculik dan Seth harus menghadapi orang-orang yang mengancam jiwanya. Tampaknya ada sesuatu yang seharusnya mereka tidak ketahui.Sesuatu yang keberadaannya telah lama ditutup-tutupi dan dikubur dalam-dalam oleh pihak-pihak tertentu. Zoe dan Seth terjerat ja...

Refusing Gift

Pernah menginginkan sesuatu tapi yang didapat ga bener-bener sesuai yang diinginkan? It's happening on me right now. Biasanya saat menghadapi yang kek gini dt bisa dengan legawa menerima dan bersyukur. Tapi ga tahu kenapa kali ini dt malah merasa sebal luar biasa. Jadi ceritanya semalam dt n adek ngomongin tentang mandphone yang lagi dipengenin. Adek pengen nokia X5 dan dt yang lagi naksir android pengen antara samsung 5333 atau LG GW620. Di sini mama ikutan lihat n denger pas dt browsing sambil ber-kya-kya lihat gambar-gambar henpon yang kita pengenin. Entah ada angin apa, barusan mama yang seharian emang keluar ke Surabaya, pulang-pulang dateng n nyodorin sebuah handphone LG layar touchscreen sambil bilang "ini buat kakak" Dan reaksi jujur pertama dt adalah "apaan nih maksudnya?" Sepertinya mama salah nangkep waktu denger n lihat dt semalem. Dikiranya dt pengen henpon touchscreen, mengingat most android emang touchscreen. Mungkin maksud mama mau...

Strangest Period

Menstrual syndrome kali ini benar-benar di luar kebiasaan. Biasanya saat period seperti ini, dt berlimpah energi, senyum terus mengembang, emosi meluap penuh optimisme, intinya masa terbaik dt justru pas masa period itu. Tapi period kali ini beda. Sumpah! Di mulai dari masa pre period dengan emosi labil yang berlebihan. Waktu itu kebetulan dt tanpa sengaja ikut rapat informal yang harusnya ga dt ikuti. Di sana para otak organisasi pada brainstorming memikirkan nasib organisasi ke depannya. Dan dt yang memang ga tahu duduk permasalahannya dan diem aja selama perbincangan itu (waktu itu sebenernya dt lagi asik nulis cerita) malah ngerasa bersalah. Ga jelas banget kan. Waktu itu, sesampai di kosan dt nangis sejadi-jadinya. Perasaan dt penuh rasa bersalah dan dt ngerasa seperti orang paling ga berguna sedunia.  Dan yang masuk golongan parah lagi adalah kemarin sore. Tiba-tiba dt merasa tertekan luar biasa. Depresi. Padahal detik sebelumnya dt masih ketawa-ketawa seneng sambil baca post...